Berumah Mimpi #7: Terimakasih, Rabbit Hole!

Kemarin sore aku pergi ke Cikapundung Riverspot sambil berdoa semoga cuaca cerah.

Bersama anak-anak, aku ingin membaca buku-buku yang didonasikan oleh Rabbit Hole. Buku tersebut terdiri dari tujuh judul dan semuanya penuh warna. Aku mendapatkannya karena penerbit Rabbit Hole mempunyai program 20 untuk 1, maksudnya setiap 20 buku Rabbit Hole yang terjual maka 1 buku akan disumbangkan bagi rumah baca/ pihak yang membutuhkan. Aku mengirimkan email ke Rabbit Hole untuk pengajuan program tersebut yang berisi alasan dan lampiran foto-foto kegiatanku belajar bersama anak-anak jalanan di Bandung. Alhamdulillah email-ku direspon dan beberapa hari kemudiaan aku dikirimkan buku-buku tersebut.

Seperti biasa aku tiba di taman pukul 04:30 sore dan kali ini aku tidak melihat anak-anak di taman. Aku coba berjalan mencari mereka tetapi tidak ketemu. Akhirnya aku duduk saja di bangku taman berwarna merah. Tiba-tiba aku melihat Aina di kejauhan bersama seorang perempuan dewasa yang sedang menjajakan berbagai minuman kemasan dengan menggunakan gerobak. Aku menghampirinya dan ternyata perempuan itu adalah ibu dari Aina.

Aku mengajak Aina untuk ke taman dan ibunya juga menyuruh Aina untuk ikut bersamaku. “Gih belajar sama teteh”, begitu ucapan ibu Aina. Mulanya perempuan mungil berambut keriting malu-malu karena biasanya ada anak-anak perempuan lain yang menemaninya belajar bersamaku juga. Ini kali pertama ia sendirian. Tapi, setelah aku menggandeng tangannya dan mengajaknya kembali ia akhirnya mau. Kami pun bersama berjalan ke taman.

Buku pertama yang kami baca berjudul Buku Emosi. Isinya tentang pengenalan rasa terkejut, jijik, marah, sedih, dan senang. Bukunya sangat menarik karena selain ada cerita, di dalamnya juga ada ilustrasi timbul yang bisa disentuh, misalnya untuk perasaan terkejut di gambarkan sebuah hati berwarna merah dan di atasnya ada sepasang stik drum. Ceritanya, perasaan terkejut itu seperti jantung yang dipukul stik drum. Lalu, perasaan senang juga diilustrasikan lewat bunga-bunga yang timbul dan dapat disentuh langsung oleh pembaca.

Saat itu cuaca tidak begitu cerah tapi pun tidak kelabu. Gerimis sempat turun tapi tidak menyurutkan minat Aina untuk belajar. Aina mengajakku untuk pindah tempat di dekat ibunya berjualan. Di sana ada sedikit atap yang dapat melindungi kami dari rintik hujan. Kami pun melanjutkan bacaan kami dengan penuh emosi.

Aku rasa tidak perlu lagi banyak kata untuk mendeskripsikan kebahagiaan kami membaca buku-buku Rabbit Hole. Foto-foto di tulisan ini cukup menggambarkan keseruan kami hari itu.

Kebisingan suara klakson dan mesin kendaraan yang melaju serta keramaian orang-orang yang berlalu-lalang tidak menjadi hambatan bagi kami dalam berimajinasi. Cerita dan gambar-gambar dalam buku membawa kami dalam keasyikan dunia fantasi.

Aina menyukai buku-buku itu. Satu demi satu buku ia pilih untuk kami baca.

img_0672

Ketika selesai membaca bersama Aina, aku membuka hp dan mengecek grup Line Rumah Mimpi. Salah satu pengajar mengatakan bahwa ia berada di musala bersama anak-anak. Aku kaget karena aku pikir mereka tidak datang. Pesan itu baru aku buka kira-kira 45 menit kemudian.

Dengan segera aku berjalan ke musala yang masih satu kawasan dengan taman. Di sana sudah ada Dila, Melinda, dan Chiko yang sedang berhitung dengan didampingi dua kakak pengajar.

Setelah selesai berhitung, aku sempatkan diri mengenalkan buku-buku Rabbit Hole. Mereka senang sekali, terlihat takjub dengan gambar-gambarnya, apalagi ada pelangi dan Candi Prambanan tiga dimensi. Mereka bahkan ingin membawa pulang buku-buku itu tetapi aku tidak mengizinkan karena buku-buku ini milik bersama dan sejujurnya juga karena khawatir buku rusak. Kelak saat kami sudah memiliki ruang perpustakaan, mereka bisa puas menikmati buku-buku selama yang mereka suka.

Sungguh sayang kegembiraan mereka membaca buku Rabbit Hole hari itu tidak berlangsung lama sebab langit mulai gelap dan mereka harus segera pulang.

Terimakasih banyak, Rabbit Hole atas buku-buku yang telah didonasikan untuk anak-anak yang sehari-hari hidup di jalanan seperti mereka ini. Semoga Rabbit Hole sukses berjalan penuh keberkahan dan terus setia turut serta mencerdaskan anak-anak Indonesia.

Bandung, 16 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s