Sekilas tentang Kelas di Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016

Sekitar sepuluh hari lalu aku mengikuti rangkaian Festival Dongeng Internasional Indonesia (FDII) 2016. Festival ini berlangsung selama dua hari di Museum Nasional Indonesia pada 5 dan 6 November 2016. Hari pertama untuk kelas dongeng dan kelas kriya sedangkan hari kedua khusus untuk pertunjukkan spesial dongeng. Aku datang di kedua hari itu dan ingin sekali membagi cerita pengalamanku tersebut.

Karena ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, maka aku membagi pengalaman di kedua hari itu ke dalam dua tulisan. Di sini aku hanya akan membahas hari pertama dan hari kedua di tulisan berikutnya.

Pertama-tama aku ingin sedikit memberikan gambaran tentang kelas dongeng di FDII 2016. Kelas ini diperuntukkan bagi orang dewasa dengan nilai investasi Rp150.000/kelas. Awalnya aku merasa mahal sekali ya total biaya yang harus dikeluarkan tetapi setelah mengikutinya ternyata ilmu yang didapat lebih dari sekedar rupiah.

Panitia FDII membuka delapan kelas dengan topik dan pemateri yang sangat menarik. Namun, maksimal kelas yang bisa diikuti hanya empat karena jadwal berbenturan.

IMG_1733.JPGKelas dongeng: Sensory Storytelling (Craig Jenkins – UK); Making a Story Interactive (Jeeva Raghunanth – India); Storyteller-Story Creator (Sheila Wee – Singapore); Effective Storytelling (Wajuppa Tossa – Thailand); Stories in Action (Ng Kok Keong – Malaysia); Arirang and Stories (Seung Ah Kim – Korea).

Kelas Ilustrasi Cerita: Ilustrasi Buku Anak (Kelir – Indonesia). Kelas Penulisan Cerita: Magical World of Storytelling (Clara Ng – Indonesia)

Aku mengikuti empat kelas dengan jadwal sebagai berikut: (10:10 – 11:40); (12:00 – 13:30); (13:45 – 15:15); (15:30 – 17:00) dan keempat kelas itu dibuka oleh format yang sama, yaitu pemberitahuan yang di antaranya tentang letak pintu darurat dan tentang aturan kelas (tidak boleh keluar masuk ruangan karena mengganggu pemateri dan peserta, serta tidak boleh juga merekam video).

1. Sensory Storytelling by Craig Jenkins

img_0901Kelas pertama yang aku ikuti ini terasa menyenangkan karena Craig mengajak kami untuk menggunakan semua panca indera saat mendongeng. Ia memandu kami untuk dapat memproduksi berbagai jenis suara, misalnya suasana alam (hutan dan laut) serta suasana kebisingan perkotaan. Ia membagi kami menjadi beberapa grup dan setiap kelompok membuat suara yang berbeda dalam satu tema. Hasilnya, perpaduan itu menghasilkan sebuah harmonisasi. continue reading…

2. Making a Story Interactive by Jeeva Raghunanth

Di kelas ini Jeeva mengajarkan langkah-langkah untuk membuat cerita interaktif. Beliau mengatakan bahwa ketika kita menuturkan cerita kepada anak-anak di ruang kelas atau di rumah, kita harus mendapatkan perhatian mereka karena tingkat perhatian mereka pendek, misalnya saat kita baru mengatakan “once upon a time” mereka memotong cerita karena mau ke toilet. Maka, sangat penting membangun interaksi dengan anak-anak agar mereka tertarik karena terlibat dalam cerita. Melalui interaksilah perhatian dapat diraih. continue reading…

3. Storyteller-Story Creator by Sheila Wee

img_0928

Ini adalah kelas ketiga yang aku ikuti dalam satu hari bersama FDII 2016. Kali ini Sheila Wee dari Singapura yang menjadi pemateri. Tentu tidak diragukan lagi keprofesionalan Sheila sebagai pendongeng karena ia sudah menekuni bidang ini selama sekitar 17 tahun. Baginya, selama belasan tahun itu yang terpenting dalam hidup adalah santai, bermain, dan tidak takut salah. continue reading…

4. Magical World of Storytelling by Clara Ng

img_0938Kelas Clara Ng adalah kelas terformal dibandingkan ketiga kelas lainnya. Di sini tidak ada praktik mendongeng karena ini memang diperuntukkan bagi yang ingin memperlajari proses penulisan cerita anak. Clara Ng mengajak peserta belajar membuat cerita yang memikat hati anak-anak, lengkap dengan tips dan langkah-langkah praktisnya. Menurutnya, lewat cerita kita bisa membawa anak-anak menjadi generasi yang lebih baik di masa depan. Itulah yang menjadi dasar Clara Ng setelah pulang dari Amerika untuk terus-menerus menulis dan bercerita kepada anak. continue reading…

***

Dari kelas mendongeng di atas aku mendapatkan dua buku karya Tere-Liye yang berjudul Amelia karena aku menjadi salah satu penanya di dua kelas yang berbeda. Aku telah memberikan buku tersebut pada sepupuku. Selain itu, aku juga mendapatkan lima buah pulpen (empat sesuai jumlah kelas yang aku ambil, satu aku minta khusus). Aku suka sekali desain pulpen ini karena berwarna merah dan bertuliskan Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016/ “Cerita Indonesiaku”/ Satu Cerita Dibagi, Senilai Satu Tradisi, Melampaui Generasi/ Museum Nasional, 5-6 November 2016. Aku berniat memberikan pulpen ini bagi kalian yang menginginkannya. Jadi, siapa pun yang berminat sila sampaikan di kolom komentar di bawah atau hubungi aku langsung.

Begitulah gambaran tentang kegiatan yang aku ikuti di hari pertama Festival Dongeng Indonesia 2016. Tentu saja tulisanku ini tidak bisa memperlihatkan keseluruhan acara. Oleh karena itu, aku sangat merekomendasikan teman-teman untuk bisa hadir di kegiatan FDII tahun depan.

Salam hangat

Bandung, 18 November 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s