Magical World of Storytelling by Clara Ng

img_0938

Kelas Clara Ng adalah kelas terformal dibandingkan ketiga kelas lainnya. Di sini tidak ada praktik mendongeng karena ini memang diperuntukkan bagi yang ingin mempelajari proses penulisan cerita anak. Clara Ng mengajak peserta belajar membuat cerita yang memikat hati anak-anak, lengkap dengan tips dan langkah-langkah praktisnya. Menurutnya, lewat cerita kita bisa membawa anak-anak menjadi generasi yang lebih baik di masa depan. Itulah yang mendasari Clara setelah pulang dari Amerika untuk terus-menerus menulis dan bercerita kepada anak.

Di awal pertemuan Clara membacakan sebuah buku puisi anak oleh Shel Silverstein. Cerita di buku tersebut sangat multitafsir dan telah diteliti oleh banyak ilmuan, misalnya:

  1. bidang keagamaan: cerita itu dianggap sebagai personifikasi Tuhan yang selalu memberi dan terus-menerus memaafkan tingkah laku manusia,

  2. bidang parenting: mengilustrasikan seorang ibu dan ayah yang terjebak di dalam sebuah hubungan yang selalu memberi kepada anaknya. Anaknya juga bisa merepresentasikan anak-anak jaman sekarang yang narsistik, yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Menurut Clara Ng, buku ini adalah buku kritik yang sangat relevan di jaman sekarang,
  3. bidang lingkungan hidup: buku ini bisa memperlihatkan sudut pandang tentang manusia menyiksa alam sedemikian rupa,
  4. bidang sosial: buku ini memperlihatkan hubungan yang tidak sehat antara satu manusia dengan manusia lain.

Namun, untuk dunia anak-anak, mereka sangat menyukainya dan Clara mengatakan bahwa itulah yang harus kita utamakan saat menulis cerita, yaitu kita harus melepaskan diri dari kebutuhkan untuk menasehati, menggurui, dan memberikan pesan moral. Prioritas kita adalah menuturkan cerita secara lugas dan apa adanya.

Sebelum kelas di mulai, para peserta diberi selembar kertas yang berisi tiga poin tentang 12 peraturan menulis cerita anak usia 3-8 tahun, 9 hal yang tidak boleh dilakukan ketika menulis cerita anak, dan tangga membaca berdasarkan penerbit. Di sini aku akan langsung membahas poin ketiga.

Clara menyampaikan bahwa anak-anak mempunyai tangga membaca. Ia berpendapat bahwa semakin tinggi usia anak maka semakin kompleks kosakata yang ada dalam cerita dan semakin sedikit gambar. Sebaliknya, semakin kecil usia anak maka semakin sedikit kosakata dan semakin besar gambar. Penulis harus paham sekali tangga membaca ini karena pada dasarnya anak-anak belajar lewat gambar.

Penulis pun harus menyesuaikan cerita dengan target usia pembaca, misalnya anak-anak di bawah usia 5-6 tahun (balita) belum paham cerita abu-abu. Mereka hanya mengetahui cerita hitam-putih. Penulis baru bisa memberikan cerita yang lebih kompleks atau abu-abu pada anak-anak di atas usia 6 tahun karena pada usia tersebut mereka sudah mulai bisa menafsirkan cerita berdasarkan pikiran kritis mereka yang sudah mulai berkembang.

Setelah penjelasan tersebut Clara mulai menyajikan materi dengan alat bantu powerpoint yang berjudul “The Poetics of the Mind“. Ia mengatakan bahwa anak-anak belajar lewat gambar dan penulis harus mampu mengemasnya menjadi sebuah cerita.

Dalam cerita ada tiga hal yang harus ditentukan yaitu karakter, latar, dan plot. Latar tidak dibahas oleh Clara karena menurutnya latar pada cerita anak bisa tidak perlu dielaborasi secara berlebihan karena latar tersebut bisa diperlihatkan lewat gambar atau ilustrasi. Pada pertemuan ini Clara lebih menekankan pada karakter dan plot.

Pertama, penulis harus menentukan character outline. Penulis harus memperlihatkan karakter tokoh secara visual yang terbagi menjadi dua bagian yaitu karakter multidimensi dan hal-hal unik pada tokoh. Contoh dari karakter multidimensi misalnya warna rambut, bentuk mata, tinggi, cara berpakaian, dan kesukaan. Agar anak-anak tertarik dan suka dengan cerita kita, biasanya karakter utama penulis berbeda nyata dari mayoritas sementara hal-hal unik yang dilekatkan pada karakter contohnya bau tokoh yang sangat wangi atau sangat asem seperti kaos kaki yang tidak dicuci berhari-hari.

Clara menegaskan bahwa penulis tidak perlu gengsi di depan anak-anak, misalnya membuat cerita tentang kentut dan pipis karena hal itu merupakan hal-hal wajar di dunia anak-anak. Sebagai contoh, penulis bisa saja membuat cerita tentang topi yang suka kentut. Clara menyarankan untuk mengambil sebuah ide untuk sebuah karakter dan lakukan secara karakter outline. Penulis juga sebaiknya memikirkan hal-hal lucu untuk anak-anak sebagai pembacanya.

Clara juga menyampaikan soal perilaku yang menciptakan karakter. Perilaku menjelaskan alasan tokoh melakukan perbuatan itu. Kalau penulis ingin menjelaskan sesuatu, misalnya menjelaskan harimau yang tidak bisa berlari, hindari dengan mengatakan “harimau yang tidak bisa berlari”. Penulis harus bisa menjelaskan secara visual, misalnya “harimau itu sangat takut dengan kegelapan, ketika tiba-tiba apel jatuh di sampingnya, harimau melompat setinggi mungkin tetapi ia tidak bisa berlari, ia terpincang-pincang berjalan”. Melalui aksi, penulis telah menjelaskan bahwa si harimau tidak bisa berlari karena perilakulah yang menciptakan karakter.

Singkatnya, perilaku yang menciptakan karakter dibagi dua: 1. Visual (karakter secara visual); 2. Perilaku (tidak dijelaskan lewat kata-kata tetapi lewat peristiwa).

Dalam membuat cerita juga kita tidak boleh lupa untuk memikirkan reaksi pembaca. Oleh karena itu bercerita pun harus paham tentang psikologis pembaca. Untuk cerita anak-anak penulis bisa menceritakan tentang hewan atau benda mati yang hidup dan untuk paham psikologis pembaca kita harus paham hal-hal yang oleh Clara dinamai “Issues of the Core of Human Experience” berikut:

  1. Need and dependency. Ini sangat penting karena manusia membutuhkan koneksi dengan yang lain, termasuk kebutuhan emosionalnya. Clara menyampaikan bahwa jika kita membuat cerita, buatlah permasalahan tokoh utama itu adalah permasalahan dia untuk terkoneksi dengan yang lain, dengan dirinya sendiri, atau dengan lingkungannya.
  2. Managing Intense Emotion. Setelah kita menciptakan masalah untuk tokoh utama, kita juga harus membantunya mengatasi masalah itu.
  3. The Art of Perceiving. Penting juga bagi penulis untuk menyerap informasi dan dikembangkan di dalam tokoh tersebut. Bagian ini berisi tentang pandangan-pandangan dan nilai-nilai yang dapat penulis masukkan dalam cerita.

Selanjutnya, Clara menyampaikan tentang empat hal yang membuat karakter menjadi tokoh yang menarik, yaitu tidak stereotype, mempunyai rahasia, mempunyai kelemahan, dan proaktif.

Ia juga menjelaskan tentang plot dan konflik. Plot terbentuk karena adanya perpindahan dan perubahan cerita yang berawal dari poin A ke poin B, sedangkan konflik tercipta dari kemauan yang mendapatkan halangan. Konflik tersebut bisa berasal dari konflik karakter dengan karakter lain, internal, atau dengan situasi.

Secara sederhana, sebuah perjalanan plot dapat diilustrasikan sebagai berikut:

kemauan —>  konflik —>  solusi

 

img_0941

Salam dari aku, Mowgli, dan mbak Clara Ng

Nah, itulah ilmu yang aku dapatkan di kelas penulisan cerita bersama Clara Ng. Semoga bermanfaat untuk kalian dan semoga semakin banyak penulis cerita anak berkualitas di Indonesia. Aamiin.

 

Advertisements

One thought on “Magical World of Storytelling by Clara Ng

  1. Pingback: Sekilas tentang Kelas di Festival Dongeng Internasional Indonesia 2016 | Risna's Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s