Berumah Mimpi #4 : Antje dari Jerman Menghadapi Anak-Anak Jalanan

Setiap hari sejak 23 hari yang lalu aku berusaha mengingat momen di Kamis sore pada 8 September 2016. Hari itu aku bersama seorang teman mengunjungi Rumah Mimpi, sebuah kelompok belajar untuk anak-anak jalanan yang berlokasi di Taman Cikapundung. Tujuanku datang pada hari itu adalah untuk menyampaikan kepada anak-anak didik soal jadwal yang akan kami sepakati untuk belajar bahasa Inggris.

Seperti biasa jadwal rutin mereka dimulai pukul 5 sore dan aku datang sekitar 15 menit sebelum kelas di mulai. Namun, sampai lewat beberapa menit dari jadwal mereka tak kunjung datang, begitu juga dengan pengajar lainnya. Aku sedikit kebingungan karena masih belum mengerti lokasi anak-anak ini biasanya berdagang di sekitar Alun-alun Bandung.

Sambil menunggu anak-anak dan para pengajar, aku melihat seorang perempuan asing berambut pirang berjalan lalu duduk di undakan tangga taman sendirian. Ia melihat-lihat sekitar taman. Beberapa menit kemudian aku menghampirinya dan berkenalan dengannya. Aku mengajaknya untuk bergabung bersama kelas anak-anak jalanan dan ia berminat. Aku senang sekali. Segera saja aku mengajaknya berpindah ke bangku merah panjang di taman dan mengenalkannya ke temanku. Tidak berapa lalu aku langsung pamit sebentar meninggalkannya untuk mencari anak-anak.

Menurutku ini kesempatan bagus. Minat belajar anak-anak bisa semakin meningkat dengan kesan pertama berinteraksi dengan warga negara asing. Aku langsung berjalan kaki sekitar 200 meter ke arah Museum KAA dan aku bertemu dengan salah seorang anak perempuan yang aku kenal adalah “kekasih” dari anak yang aku ajar di minggu-minggu lalu. Aku tahu karena aku berteman di Facebook dengan anak laki-laki sekitar 13 tahun ini dan aku sempat melihat-lihat foto kebersamaan mereka timeline-nya.

Aku langsung menyapanya, “ini pacarnya Abil ya?”

Anak ini tersipu malu dan beberapa teman-temannya yang lain menjawab, “Udah enggak, teh. Udah putus. Sekarang ini nih pacarnya.” Seorang anak perempuan lain berlipstik merah ikut menjawab sambil menarik-narik anak laki-laki yang disebut sebagai pacarnya Rindu.

Penasaran aku tanya Rindu, “Kenapa putus? bukannya baru jadiannya?”

Dengan spontan ia menjawab, “Abilnya selingkuh”.

Aku tidak berminat meneruskan percakapan tentang ini. Aku hanya berusaha untuk bisa masuk demi mengajak mereka ke Taman Cikapundung. Aku jelaskan bahwa saat ini aku bersama “orang bule” yang sedang menunggu di taman dan mengundang mereka untuk bertemu dengannya. Mereka antusias. Beberapa anak laki-laki mengikuti langkahku, begitu juga dengan Rindu dan anak perempuan yang aku lupa namanya.

Aku ajak mereka ke lantai atas taman karena di bawah cukup ramai. Fokus mereka akan mudah terpecah di bawah. Aku berhasil mengumpulkan empat anak laki-laki untuk bersama duduk lesehan. Kami memulai perbincangan dengan memperkenalkan nama. Aku menjembatani mereka berkomunikasi. Satu demi satu pengajar Rumah Mimpi datang. Sebetulnya aku kurang enak hati karena langsung saja memulai kelas tanpa konfirmasi. Aku lalu meminta izin dengan ketua organisasi ini dan kami bersama berada dalam satu lingkaran.

Sejujurnya dibutuhkan tenaga ekstra menghadapi anak-anak ini. Dari empat anak itu, aku rasa hanya satu yang betul-betul berminat mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya. Ia adalah Eden. Pada foto di bawah ia memakai kaos abu-abu. Sementara yang lainnya sibuk bercanda menggunakan bahasa Sunda, terutama yang tepat di sebelah Antje. Ia terus saja bercanda dan aku memperhatikan ia beberapa kali menyentuh paha Antje dan berusaha bersandar-sandar padanya.

Fokus kelas hampir buyar. Aku berusaha menetralkan suasana dengan bertanya soal keseharian mereka. Ternyata hampir semua dari mereka setiap hari menjual bola di Taman Masjid Agung Bandung. Cukup keras hidup mereka maka wajar saja sopan santun mereka kurang terbentuk. Aku berkali mengucap maaf pada Antje dan syukurnya ia memaklumi.

Setelah selingan obrolan itu aku berusaha membawa anak-anak pada topik materi. Aku mengajukan berbagai pertanyaan, misalnya pertanyaan yang mungkin diajukan saat memulai perkenalan dengan orang asing. Aku mempraktikan kalimat demi kalimat dan anak-anak ini menyampaikannya pada Antje. Antje menjawab dan balik bertanya. Anak-anak ini kebingungan. Suasana pecah dengan tawa.

Begitulah sore hari itu berakhir dan kami tutup dengan berfoto bersama. Tidak tertinggal juga boneka tanganku, Mowgli dan Kero, berfoto bersama Antje dan anak-anak. Walau senja menjelang, bagiku sore itu masih sangat cerah!

 Bandung, 01 Oktober 2016

*Pertemananku dengan Antje tidak hanya berakhir di hari itu. Malamnya kami pergi makan bersama dan esoknya kami berwisata ke Ciwidey. Aku akan menuliskan pengalamanku itu di judul tulisan yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s