Berumah Mimpi (Part 3)

Kemarin lusa merupakan salah satu hari yang sangat aku nantikan. Aku membayangkan bertemu anak-anak jalanan sekitar alun-alun Bandung dan mulai mengajarkan mereka bahasa Inggris. Sore sehari sebelumnya aku membeli berbagai poster seperti alfabet, angka, nama-nama benda (buah, alat transportasi, dan alat musik), dan juga Pancasila. Aku pun membeli dua pack buku tulis serta selusin pensil. Dari toko aku langsung menyampul buku-buku itu dengan sampul gulung, serta meraut pensil-pensil. Semuanya kulakukan sendiri dengan penuh cinta karena aku ingin menumbuhkan rasa sayangku pada mereka. Dengan begitu, aku akan bersemangat dan sepenuh hati menjadi kakak bagi mereka.

Pagi hari menjelang pertemuan di sore hari aku menata materi dan perlengkapan yang akan aku bawa. Menggunakan motor yang kusetir sendiri aku pergi ke Taman Cikapundung Bandung. Sungguh sayang. Mereka taknampak hingga lewat dari waktu yang dijadwalkan. Aku coba berjalan kaki mengitari sekitar alun-alun dan taman tapi aku tidak melihat satu pun dari mereka. Aku mencari anak-anak jalanan yang telah kukenali pada pertemuan sebelumnya.

Sebetulnya aku tidak suka dengan istilah ‘anak jalanan’ karena jalanan takmemiliki rahim dan bukan pula seorang ibu yang dapat mendewasakan mereka. Memang, jalanan mampu membuat mereka cepat matang dari anak-anak lain seumurannya tetapi tidak mengarahkannya pada jalur semestinya, jalur yang mampu mengarahkannya sebagai pemberani peraih cita-cita demi gemilangnya masa depan mereka.

Pendapatku itu di antaranya karena aku mengenal salah satu dari mereka yang sudah tiga tahun putus sekolah. Usianya kini kurang lebih 12 tahun tetapi gayanya bersikap sungguh bukan seumurannya pada umumnya. Ia memang seorang pemberani: berani mencoba meminjam ponselku untuk online facebook, berani bertutur kasar pada temannya, dan berani berfoto berpelukan di atas rumput sintetis alun-alun dengan ‘pacarnya’ di antara banyak pengunjung lain. Sungguh ironi. Di sekitar kemegahan Jalan Asia Afrika dan Masjid Alun-Alun Bandung, masih ada anak-anak bernasib seperti ini.

Aku sangat kecewa sore itu. Persiapanku sia-sia. Saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa. Hingga tiba-tiba dua orang anak laki-laki melintasi taman. Aku lihat seorang anak berjaket biru memikul dagangan sambil berteriak, “jagung jagung…”. Ia sempat berhenti beberapa kali dalam langkahnya, menurunkan pikulannya, dan beristirahat sejenak, lalu sambil bercanda dengan yang kusangka temannya ia mulai memikul dan IMG_5707berjalan lagi.

Aku menghampirinya. Membeli jagung rebusnya dan berbincang dengan mereka. Yang berjaket biru bernama Alan dan yang lainnya bernama M. Bahtiar. Mereka bersaudara dan masih duduk di bangku kelas 5. Aku tidak menyangka mereka berasal dari Ciparay. Menggunakan bus untuk menempuh kira-kira 22 km demi menjajagakan dagangan yang cukup berat.

Mereka begitu sopan terhadapku, misalnya saat menjawab berbagai pertanyaan dan berterimakasih padaku. Alan sempat bertanya, “teteh lagi apa di sini?”

IMG_5708

Aku jelaskan tujuanku dan mencoba mengajak mereka untuk belajar. Namun mereka menolak karena harus berjualan. Aku memahami bahwa mereka baru saja tiba dan tujuan kedatangannya untuk mencari uang. Maka, aku memberikan mereka berdua uang lebih atas kerja kerasnya serta memberikan dua kotak kemasan susu cair siap minum yang sebenarnya aku bawa untuk anak-anak yang ingin kutemui.

Setelah bertemu mereka, perasaanku membaik. Senyum dan canda tawa mereka semakin memunculkan semangatku untuk dapat turut menjadi bagian dari anak-anak seumuran mereka yang sebagian besar hidupnya di jalan. Dengan berbekal harapan, aku akan membuat jalan yang mengarah pada keberhasilan tujuanku. Semoga terwujud.

Bagiku, hari itu sangat berkesan.

Bandung, 3 Agustus 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s