Berumah Mimpi (Part 2)

Berumah Mimpi (Part 1) … sejak kelas 4 dan seharusnya sekarang kelas 1 SMP. Aku mengira ia masih seumuran SD karena postur tubuhnya. Aku coba mengatasi dengan menyarankannya bergabung dengan anak-anak kelas 4 lalu ia ke sana. Tapi aku lihat ia tidak nyaman berada di sana. Taklama ia pergi menjauh.

IMG_5638

Aku hanya melihatnya saja tanpa komentar karena aku sedang menemani Annisa dan Mansur menyusun abjad. Tiba-tiba Abil datang berlari dan membentur kepala Nisa. Aku tidak tahu detilnya tapi itu menyebabkan Nisa memegang kepala dan menangis. Abil menghampiri untuk meminta maaf karena tidak sengaja membuat kepala Nisa terbentur tapi Nisa tidak menggubris dan masih terus menangis, bahkan ia tidak mau mengangkat kepalanya. Aku dan para pengajar berusaha menenangkan tapi Nisa masih terus saja menangis. Akhirnya aku mengalihkan situasi bermain abjad dengan menghitung waktu. Aku meminta mereka berkompetisi. Bermain sendiri-sendiri.

Satu persatu anak  yang sudah selesai berhitung menghampiri kami. Hanya beberapa anak saja yang tidak ikut. Abil dan Adin belajar menulis di papan tulis, Faisal memerhatikan mereka menulis, dan Mala serta Nisa masih serius berhitung hingga akhir proses pertemuan. Tak berlangsung lama, Abil dan salah seorang anak yang aku tidak tahu pasti berlari ke luar taman. Kang Widi dan Nia memanggilnya, tapi ia malah semakin menjauh. Akhirnya Kang Widi bilang, “biarin aja, nanti juga balik lagi”, sepertinya ketua dari Rumah Mimpi ini sudah terbiasa dengan hal itu.

Proses pembelajaran berlangsung semakin seru. Saat aku menginstruksikan untuk bermain secara kompetisi per individu, Iman mengajak dua anak lain yang akan berkompetisi untuk berpindah tempat, mendekati air mancur, karena di sana terdapat semacam undakan tangga jadi posisi tubuh lebih nyaman bermain. Semua mengikutinya dan permainan segera di mulai. Tiba-tiba muncul beberapa anak yang lain dan akhirnya aku memutuskan untuk berkompetisi tim secara berpasangan. Mereka memilih pasangannya sendiri, aku menolak. Aku menyuruh mereka untuk gambreng menentukan kelompok dan urutan bermain.

IMG_5629

Anak-anak lain yang sudah selesai berhitung ikut gabung bermain dengan kami. Jadinya saat itu ada empat kelompok dan masing-masing dihitung durasi penyelesaian dengan stopwatch. Tidak hanya mengurutkan abjad karena tentu itu sangat mudah untuk seumuran mereka. Setelah tersusun aku meminta mereka membaca juga kata berbahasa Inggris di atas setiap abjad, misalnya Apple untuk A, Girrafe untuk G, dan Queen untuk Q. Mereka membaca sebisa mereka. Aku belum membetulkannya. Awalnya mereka menolak karena tidak bisa membaca kata berbahasa Inggris. Maka, aku yakinkan membaca sebisa mereka saja. Aku ingin membangun rasa percaya diri mereka dahulu. Lagi pula aku belum membicarakan soal pelajaran bahasa Inggris ke teman pengajar yang lain saat itu. Hari itu hanya spontanitasku saja agar mereka tidak sekedar bermain puzzle tapi pun memahami setiap manfaat yang ada dalam abjad bergambar itu.

Saat awal pertemuan, aku sempat berbincang sebentar dengan Nia soal materi yang diajarkan di sini. Ia mengatakan, “biasa, teh. Baca, tulis, hitung”. Aku rasa keberadaanku di sini tepat. Pengajar yang lain mengajarkan ketiga hal itu, sementara aku ingin sekali mengajarkan bahasa Inggris. Ada banyak sekali manfaatnya untuk mereka, terutama mengangkat kepercayaan diri. Prioritasku bukan sekedar meningkatkan nilai rapot mereka di sekolah, bagi yang beruntung masih berkesempatan bersekolah, tapi juga modal besar untuk jangka panjang hingga mereka dewasa. Untuk yang tidak bersekolah pun, bahasa internasional ini dapat membekali mereka hidup lebih layak di masa depan. Demi merealisasikan mimpi terbesar dalam hidup anak-anak yang sehari-hari mencari nafkah di jalanan. Namun, aku belum mengatakan hal ini dengan teman-teman di Rumah Mimpi. Aku akan segera membicarakannya.

Hari itu waktu terasa sebentar. Pertemuan mungkin hanya berlangsung sekitar satu jam karena menunggu anak-anak membersihkan diri setelah menguras kolam. Setelah pertemuan, kami sempat berfoto. Hanya tujuh anak yang ikut berfoto karena begitu adzan berkumandang beberapa anak langsung menyalami kami untuk pamit pulang dan langsung berlari keluar taman.

Aku sangat senang bertemu anak-anak ini dan masih ingin bertemu mereka lagi.

IMG_5622

Tulisan dalam papan ditulis oleh anak-anak dan mereka menolak keras saat ditegur untuk mengganti dengan kalimat lain.

Advertisements

One thought on “Berumah Mimpi (Part 2)

  1. Pingback: Berumah Mimpi (Part 1) | Risna's Journal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s