Betapa Mudahnya Bahagia

Tepat tengah hari, aku dan mama mengunjungi rumah bibiku yang berjarak sekitar 2 km. Di sana kami tidak hanya bertamu tapi pun sebagai pembeli. Bibiku bersama suaminya memiliki warung sayur dan kelontong untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Mama rutin belanja di sana.

Biasanya ketika aku dan mama datang, anak bibiku sedang bermain bersama teman-temannya di belakang rumah atau menonton tv. Kali ini ada yang menarik. Saat kami datang sepupu kecilku sedang sibuk mengikat botol bekas Yakult dengan tali rafia.

“Apa itu? mobil-mobilan ya?

“Bukan”

“Apa atuh?”

“Botol”, jawabnya singkat dan ketus.

Aku tertawa merasa tampak bodoh. Tepat sekali itu memang botol bekas minuman fermentasi. Aku pikir ia sedang berfantasi.

Setelah itu ia pergi ke depan warung. Namun, tiba-tiba anak bibiku yang baru berusia empat tahun ini tampak murung dan ngambek. Semua bingung tapi karena bibi sedang asik mengobrol dengan mama maka bibi tidak menggubrisnya. Aku memerhatikan. Ternyata alasan kemarahannya karena ikatan botolnya terlepas. Mungkin itu yang kesekian kalinya.

“Oh talinya lepas ya? Sini sini teteh ikat”, bujukku.

Karena posisi sepupu kecilku ini lebih dekat ke kakaknya, maka kakaknya langsung menawarkan bantuan. Botol terikat kencang, ia pun senang.

Aku taklepas pandang dari dua bersaudara ini. Aku lihat kakaknya menunjuk-nunjuk arah yang harus adiknya bidik. Aku masih tidak mengerti.

“Lana, eta teh naon?”

Pancingan, teh Risna.”

Oalah. Ternyata mereka sedang memancing. Kakaknya turut membantu melepas ‘umpan’ dengan menaiki tumpukan karung berisi terigu.

Setelah bosan memancing di warung, adik kakak ini pergi masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, sebab aku gabung berbincang dengan mama dan bibi. Beberapa menit kemudian mama meminta tolong untuk diambilkan segelas air putih ke dapur. Aku segera pergi ke sana.

Dari sela pintu dapur yang menuju belakang rumah, aku lihat sepupu-sepupuku tadi sedang riang bermain. Aku mengintip tapi segera meninggalkannya untuk mengantar air minum ke mama. Lalu aku lekas menghampiri mereka.

Aku lihat sepupu perempuanku sedang menonton adiknya yang memutar-mutarkan botol bekas. Mereka tampak riang, terutama sang adik. Aku senang melihatnya. Dengan barang yang sangat sederhana itu mereka dapat berimajinasi dalam permainan.

Aku gembira.

Betapa mudahnya bahagia.

Bandung, 29 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s