Suara Jantung Mama

IMG_5583.JPG

IMG_5582.JPG

Suara canda Desta and Gina in the Morning mengiringi perjalanan aku dan mama. Bersama Prambors Fm kami menempuh kira-kira 12 km menuju Santosa Hospital Bandung Central (SHBC). Aku mengantar dan menemani mama untuk memeriksakan kesehatan jantungnya. Alasannya, bulan depan kedua orangtuaku akan melaksanakan ibadah haji, Insya Allah.

Tiga hari lalu mama dan bapa mendapatkan suntik vaksin influenza dan meningitis di Jakarta. Di sana juga mereka mendapatkan hasil dari general medical check-up yang mereka lakukan bulan lalu. Hasilnya, kedua orangtuaku dinyatakan sehat. Hanya, dokter dari Yayasan Armina menyarankan mama untuk tes ulang kesehatan jantung di rumah sakit lain. Sebab, katanya jantung mama ada yang “ngadurutdud”. Begitu Mamaku menirukan dokter tersebut. Mungkin maksudnya adalah tidak stabil. Mungkin.

Aku komentar barangkali alasannya karena mama terlalu cape dan stres. Mama mengiyakan. Ia juga menambahkan, “Perasaan waktu diperiksa biasa aja. Tapi iya sih kaya trauma ketemu dokter”. Aku kaget. Teringat ceritanya dulu. Lalu mama menceritakan ulang.

Saat baru memiliki satu anak, yaitu tetehku, mama pernah dimarahi dokter. Dulu mamaku sering sakit dan harus kontrol beberapa kali di rumah sakit di Bekasi. Satu waktu, ia telat beberapa hari untuk memeriksakan pemulihannya. Dokter marah dan berkata, “Kamu tuh ga bersyukur! Orang-orang berobat di sini bayar. Kamu enggak!” Bahkan dokter itu juga menepakkan map ke kepala mamaku. Mama kaget dan hanya merespon, “Iya, dok. Maaf saya salah. Ini jadi pelajaran untuk saya.” Padahal yang sesungguhnya mamaku kerepotan mengurus satu anak yang masih kecil dan sekaligus pekerjaan rumah sendirian jadi ia tidak memerhatikan tanggal. Sejak itu ia selalu tegang bertemu dokter.

Untungnya, dokter di sini tidak langsung memeriksa mama. Setelah melengkapi data dan diperiksa tensi darah oleh suster, mama masuk ruangan pemeriksaan grafik jantung yang dioperasikan oleh suster yang lain. Hasil cetaknya diserahkan ke dokter di ruangan yang lain lagi.

Mama masuk ruangan lebih dulu, aku mengikuti di belakangnya. Ketika mamaku masuk, dr. Kiki Abdurachim Nazir, SpJp sedang duduk dan membaca data mamaku. Dokter kali ini sangat ramah. Sebelum mempersilahkan kami duduk, dokter tersebut menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Ia menyatakan bahwa hasil grafik denyut jantung mamaku normal. Sehat. Lantas ia heran soal keperluan pemeriksaan ini. Mamaku menceritakannya, beserta bunyi durutdud itu. Dokter tertawa. Suster ikut tertawa.

“Ini dari perusahaan ya?” tanya dokter. Mama mengiyakan.

“Untuk memastikannya kita USG dulu ya.”, terang dokter.

Kami mengikuti instruksi suster menuju ruangan USG. Di dalam ruangan mama berganti pakaian. Sebelum dokter datang, suster memakaikan beberapa (entah apa namanya) ke area dekat jantungnya. Berbentuk seperti kertas-kertas lingkaran untuk menghubungkan antara permukaan kulit dan kabel-kabel ke alat USG.

Dokter datang.

Ia mengambil alat seperti corong dengan mengoleskan cairan kental bening ke permukaannya. Kemudian, ia menekan alat itu ke dekat dada kanan mama. Aku menyaksikan layar. Terus memerhatikannya.

Layar menampilkan bentuk jantung mama. Sekepalan. Berdegub.

Dokter memencet tombol-tombol pada alat itu dan muncul grafik irama jantung mama. Kemudian keluar gambar di layar dalam bentuk cetak. Tangan dokter lalu berpindah ke titik yang lain dan melakukan hal yang sama.

Di titik yang lain lagi, dokter mengarahkan. Kali ini, bersama suara jantungnya. Aku dengar suara jantung mama dengan jelas, seperti suara radio saat aku berada di dalam mobil. Memenuhi ruang.

Melalui alat pembesar suara, aku merasakan jantung mama semakin nyata. Aku takjub. Selama ini aku lihat alat itu mencetak gambar bayi dalam kandungan. Beberapa temanku yang sudah menikah memublikasikan foto-foto bayi dalam perut mereka di media sosial. Sekarang aku melihat hal lain. USG Jantung. Jantung mama. Ibu yang telah mengandungku.

Aku melihat denyut jantung mama dan juga mendengar suaranya. Suaranya berirama degub dan bergemuruh. Aku takut.

Terlintas bahwa suatu saat jantung mama membisu.

Bandung, 27 Juli 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s