Fenomena Pendatang di Kampung Inggris Menyikapi Erupsi Gunung Kelud

BgXu8UsCQAAYjUi.jpg large.jpg

Pukul 21:05 (13/02) gemuruh suara langit pertanda hujan dan gelegar geledek kerap mendentum. Teman saya keluar untuk melihat keadaan langit di sekitar kosan. Takberapa lama ia mengabarkan bahwa dentuman itu bukan suara langit tapi suara letusan Gunung Kelud. Saya lekas berganti pakaian untuk menyaksikan peristiwa itu dari depan pagar kosan.

Di sana telah ramai orang-orang menonton ke arah gunung. Kilatan-kilatan petir jingga tampak bersama suara bak tembakan. Kilatan petir putih pun muncul dari langit yang mendung. Dua kilat itu menambah suasana kengerian berada di persawahan. Peristiwa diabadikan dan disaksikan masyarakat setempat dan pendatang di Kampung Inggris, Pare-Kediri, tempat saya kini berada.

Sekitar dua jam kemudian, pasir dan kerikil menghujani. Saya langsung masuk kamar dan melindungi pernapasan dengan masker demi menghindari debu vulkanik. Saya merasa tenang karena bapak kosan menginformasikan bahwa jarak tempat tinggal dengan Gunung Kelud itu sekitar 36 km. Sangat aman. Ditambah lagi teman saya pernah bercerita soal pengalamannya menghadapi letusan Gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2010 lalu. Ia tahu betul segala yang harus dikhawatirkan dan diatasi. Pernapasan kamilah yang harus pertama dilindungi.

Sementara, dari balik kamar saya dengar riuh kepanikan teman-teman. Mereka sibuk menelpon keluarga. Ada juga yang terisak-isak ketakutan dan minta dijemput pulang malam itu juga oleh orangtuanya yang tinggal di Ponorogo. Salah satu teman berkali menerima broadcast bahwa akan terjadi gempa dan letusan susulan. Ia mengingatkan agar kami tetap terjaga. Mati lampu pun semakin menambah tegang suasana. Tengah malam itu juga ada yang memesan tiket pesawat dan langsung ke Surabaya menuju bandara. Stasiun Kediri pun tidak luput dari incaran mereka yang lain.

Saya memantau situasi sambil membereskan barang-barang berharga ke dalam satu ransel untuk mengantisipasi jika keadaan semakin memburuk. Saya terlelap, lalu terbangun. Saya masih mendengar kegaduhan di luar kamar. Mereka sudah menyiapkan koper dan tas-tas di teras untuk segera dibawa jika gempa terjadi. Tidak mampu mengatasi rasa lelah, mereka bahkan memutuskan untuk tidur di teras yang langsung mengarah ke udara terbuka. Padahal saat itu udara pekat abu vulkanik.

Saya tertidur lagi satu jam dan terbangun pukul tiga dini hari karena mendengar dering blackberry messenger (BBM) masuk. Pesan singkat dari ibu yang menanyakan keadaan dan meminta saya untuk lekas pulang: Risna, pulang aja. Abunya sampai ke Jogja. Kekhawatiran dan permintaan yang sama dilontarkan bapak yang menelpon saya pukul sembilan pagi. Tidak berhasil membujuk pulang lantas bapak mengingatkan saya untuk pakai masker karena dapat menyebabkan sesak nafas.

Saya menjelaskan bahwa saya baik-baik saja. Saya berada di tempat yang aman, 36 km dari letusan. Jika terjadi sesuatu, saya pasti mengabarkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Begitu cara saya berusaha menenangkan kedua orangtua, keluarga, dan teman-teman yang bergantian menanyakan kabar.

Bertolak-belakang dengan pendatang lain, mereka berduyun-duyun meninggalkan Kampung Inggris, Pare-Kediri. Semakin hari, semakin sepi. Kampung Inggris semakin ditinggalkan pendatang yang menjadikannya bernyawa. Saya merenung, merasa ada keganjilan terhadap sikap para pendatang itu.

Saya mendengar bahwa mereka yang bertahan di kosan bertelponan dengan nada kepanikan. Saya pun membaca status teman-teman di Kampung Inggris justru menambah kekhawatiran orang yang tidak tahu persis keadaan di sini. Teman saya dari Bandung misalnya memasang foto profil BBM peta aliran bahaya lahar di sekitar Kelud yang di antaranya mengalir ke arah Pare-Kediri. Ia dan teman-teman yang lain juga menulis status yang memperlihatkan ketakutan dan memohon perlindungan Tuhan.

Hak mereka memang menulis status semacam itu. Tetapi, itu dapat berdampak bertambahnya kekhawatiran orangtua, kerabat, dan teman-teman. Jika wilayah saya masuk dalam zona berbahaya, pemerintah pasti langsung mengabarkan dan segera mengevakuasi. Pada saat itu pemerintah sudah jelas menyatakan bahwa 10 km dari Gunung Kelud yang masuk dalam zona bahaya.

Saya melihat dua hal yang menjadi penyebab kepanikan teman-teman, yaitu berkaitan dengan pola asuh orangtua dan minimnya pengalaman jauh dari keluarga. Pola asuh orang tua yang tidak mendidik anak untuk meningkatkan kepercayaan diri dapat menimbulkan ketidakmandirian seorang anak. Rasa takut berkaitan dengan kepercayaan diri. Saat seorang anak menghadapi satu situasi di luar kehendaknya, ia berhadapan dengan masalah. Bila sejak dini ia dipercaya untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidupnya, maka saat dewasa ia akan tumbuh berkarakter kuat, mandiri ,dan percaya diri untuk mengatasi masalahnya di kehidupan mendatang. Terbebas dari rasa takut mengatasi masalah.

Awal ketakutan dan kepanikan seorang remaja yang tidak atau kurang mandiri dapat terlihat saat pengalamannya hidup jauh dari keluarga. Tidak ada lagi orangtua atau kerabat yang dapat langsung membantu ketika dibutuhkan. Seorang anak yang ketergantungan pada orangtua atau pembantu di rumah dipaksa untuk mampu mengurus dan memenuhi kebutuhannya seorang diri. Pengalaman jauh dari keluarga inilah yang mampu menjadi salah satu sarana pengasah terlambatnya kemandirian anak.

Dampak dari kurangnya pengalaman jauh dari keluarga dapat dilihat dari teman-teman saya yang merasa tidak berdaya untuk segera dijemput pulang. Pulang ke rumah yang dapat menjaminnya hidup aman dan nyaman. Keluarga selalu dijadikan pilihan untuk berlindung. Tapi, bukankah orangtua yang selalu menolong tanpa mendidiknya tumbuh menjadi anak bermental baja justru menjerumuskan hidupnya?

Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Keluarga adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Dari keluarga, seorang anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang handal dan berkarakter kuat. Hal tersebut akan membuat anak bersikap tenang ketika menghadapi masalah dan terhindar dari rasa mudah panik. Maka, rasa takut seperti yang disebabkan erupsi Gunung Kelud ini akan mampu diatasi.

 Kampung Inggris, Pare-Kediri, 19 Februari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s