Kecil-kecil Pada Konsumtif

Bacaan anak berjajar pada rak khusus di toko buku. Anak-anak berlalu-lalang dan membaca. Bahkan, beberapa dari mereka memilah dan memilih buku bacaannya sendiri untuk dibeli. Tentu, orang dewasa atau orang tua yang memahami makna buku akan senang melihatnya. Taufik Ampera, pemerhati anak, termasuk orang tua yang paham manfaat buku. Ia memandang bahwa melalui bacaan, anak-anak akan mengalami perkembangan fisik dan mental, karena bacaan anak akan dapat memberikan nilai-nilai yang tinggi bagi proses perkembangan bahasa, kognitif, personalitas, dan sosial anak-anak.

Proses perkembangan itu sudah dimulai sejak masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak merupakan awal pembentukan karakter untuk memahami diri sebagai individu yang lalu mampu berinteraksi di lingkungan sosial. Masa itu menjadi awal penentu tahap-tahap hidup seseorang. Demi membentuk karakter, salah satunya dapat dibantu melalui media buku cerita.

Kesadaran ini yang mungkin mendasari tokoh-tokoh penulis cerita anak dalam berkarya. Mungkin karena itu, Arswendo Atmowiloto, Djoko Lelono, Murti Bunanta, Dwiyanto Setyawan, dan Soekanto menulis cerita untuk anak-anak. Mereka ingin anak-anak, seperti yang dikatakan Taufik Ampera, kemampuan berbahasa, kognitif, personalitas, dan sosialnya mengalami peningkatan.

Kini, cerita anak-anak ternyata tidak hanya ditulis oleh orang yang sudah dewasa. Sejak nyaris 10 tahun lalu mulai bermunculan cerita anak yang ditulis oleh anak-anak. Buku-buku itu semakin marak setelah penerbit melihat dan menyadari hal ini sebagai peluang bisnis. Penerbit khusus penulis anak-anak itu, misalnya Java Kids (Karya-Karya Penulis Kecil), Tiga Ananda (The Story Explorer dan First Novel), Diva Press (Kecil-Kecil Pintar Karya), Al-Kautsar Kids (Novel Anak), Edelweiss (Cilik-cilik Punya Karya dan Kakak Cilik Punya Karya), dan Mizan Pustaka yang mewadahi empat grup penerbit sekaligus, yaitu Bentang Belia (Bintang Kecil dan Laskar Pelangi), Noura Book (Penulis Cilik Punya Karya), Muffin Graphics (Komik Kecil-Kecil Punya Karya), dan Dar! Mizan (Pink Berry dan Kecil-Kecil Punya Karya).

Buku-buku di atas belakangan memenuhi bacaan anak di rak toko-toko buku. Selintas, hal ini menggembirakan, apalagi anak-anak usia 9 sampai 12 tahun itu sudah mampu menulis. Kegembiraan ini akan semakin bertambah jika kita menyadari bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang taraf melek literasinya masih rendah. Namun, bagaimana isi buku-buku yang ditulis oleh anak-anak itu?

Seri Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) dari Dar! Mizan menjadi pelopor bacaan yang ditulis oleh anak-anak. KKPK yang pertama kali muncul pada akhir Desember 2003 sebagian besar bertema persahabatan dan tidak sedikit yang berlatar sekolah, misalnya “Kisah Melanie” dalam Arti Sahabat (Fatiyyah Hamasah, 2011). Di sana, diceritakan tentang Melanie yang semula tidak memiliki teman lalu menjadi orang yang disegani dan disenangi karena salah satu teman sekelas pernah datang ke rumahnya. Temannya ini berfoto bersama di sana dan memperlihatkan rumah serta barang-barang mewah milik Melanie ke teman-teman sekelas. Akhirnya mereka berteman, bahkan bersahabat. Buku lain yang juga berlatar sekolah yaitu Chaca’s Daily Notes (Yasmina, 2012). Di kelas baru, banyak yang ingin bersahabat dengan Chaca karena ia berasal dari keluarga keenam terkaya di Asia Tenggara.

Dua cerita di atas menunjukkan bahwa persahabatan dinilai dari nilai ekonomis melalui benda-benda yang melekat atau dilekatkan pada individu, misalnya handphone dan pakaian. Hal seperti ini juga saya temukan pada cerita tentang anak perempuan, Gabriella, yang gila belanja dalam Shopaholic Girl! (Alya Nabila, 2010). Ia akhirnya tersadar setelah bertemu dengan anak-anak di panti asuhan. Bentuk kesadaran Gabriella yaitu mentraktir anak-anak yatim-piatu ke mall untuk bisa memilih baju yang mereka sukai.

Tiga karya yang telah saya bahas di atas ternyata mengungkapkan pentingnya barang-barang yang secara ekonomis mahal. Barang-barang itu dianggap sebagai  penentu segala sesuatu. Cerita-cerita tersebut seperti menawarkan pola hidup yang konsumtif. Dari konsumtif itu dapat menjalar menjadi konsumerisme yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, “paham atau gaya hidup yang mengganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dsb. atau gaya hidup yang tidak hemat”.

Penawaran mentalitas yang konsumtif ini semakin kuat dan tampak jika kita melihat biodata penulis, misalnya dalam biodata Salma Izzatunnuha, penulis The Special Twins. Di sana tercantum website, alamat untuk gabung dalam grup di multiply, akun twitter, dan facebook perempuan usia 12 tahun ini. Pencantuman itu bukan suatu kebetulan, tetapi datang dari kesadaran atas pilihan bahwa Salma memiliki akun-akun di dunia maya tersebut.

Saya belum tahu bagaimana buku KKPK yang lain, tapi jika melihat judul-judulnya saja sangat mungkin tidak jauh berbeda. Judul-judul lain, misalnya Let’s Bake Cookies (Izzati, 2004), The Tale of 3 Travelers (Ali Riza, 2005), Millie Sang Idola (Alleya Hanifa, 2006), My Wonderful Holiday (Qurrota Aini, 2007), My Piano My Best Friend (Ramya Hayarestha, 2008), My Sweet Heart (Amira Budi Mutiara, 2009), My Wonderful Friendship (Rahiimi, 2010), Princess Contest (Zalinda Salsabila, 2011), dan My Days in America (Sarah Asyfa, 2012). Oleh karena itu, saya belum bisa cukup bergembira dengan jumlah buku bacaan anak yang semakin berkembang secara kuantitas, karena saya khawatir kualitasnya tidak jauh berbeda dari cerita-cerita KKPK yang sudah saya baca.

Buku-buku yang berjajar pada rak khusus di toko-toko buku itu sebaiknya diperiksa kembali dengan cermat, terutama soal dampak yang akan ditimbulkan bagi pembaca (anak-anak). Dengan begitu, bakat menulis anak-anak itu dapat terkelola dan berpengaruh positif dalam membantu pengembangan karakter pembaca, terutama seusia penulisnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s