Memaknai Keluarga Lewat “33 Postcards”

33 Postcards (2011) DVD Cover v1.jpg

Pertalian keluarga berbeda dengan perdagangan. Hubungan lahir dan batin keluarga bukan hubungan jual-beli untuk mendapatkan keuntungan. Hubungan keluarga merupakan ikatan saling mendukung untuk saling berkembang. Keluarga pun tidak sekedar hubungan ayah-ibu-anak, bertalian darah, atau sekedar tinggal satu atap. Hubungan ini juga bisa mengikatkan dua generasi dalam dua budaya, seperti pada film “33 Postcards”.

Film yang dirilis pada 2011 di Sydney Film Festival ini bercerita tentang Mei Mei (Zhu Lin), anak yatim-piatu, yang bermimpi memiliki keluarga utuh. Harapannya semakin berkembang dengan kehadiran Dean Randall (Guy Pearce) sebagai donatur yang rutin mengirimkan kartu pos bergambar sejak Mei Mei berusia enam tahun. Cerita dalam kartu pos, Dean mengaku bekerja sebagai penjaga hutan dan memiliki empat orang anak. “I want to go to Sydney. I want to meet with you”, balas Mei Mei dalam salah satu suratnya.

Ketika Mei Mei memiliki kesempatan ke Australia untuk Festival Paduan Suara, ia tidak melewatkan kesempatan untuk bertemu Dean. Di sini, harapan untuk mewujudkan impian semakin terang. Mimpi Mei Mei untuk memiliki keluarga yang utuh semakin mewujud. Tapi, Dean yang diceritakan bekerja sebagai penjaga hutan, memiliki anak-anak, dan tinggal di pantai ternyata fiktif. Itu semua hanya khayalan di dalam penjara.

Dean yang nyatanya narapidana karena kasus pembunuhan, tidak menjadi alasan Mei Mei untuk mengurungkan niat tinggal bersama. Hingga pada satu kesempatan berkunjung ke penjara, Mei Mei berterima kasih kedua kali karena Dean telah membiayai hidup dan sekolahnya. Kini, saatnya Mei Mei membalas dengan bekerja untuk mencari uang dan menghidupi mereka berdua.

Mei Mei mendapatkan peluang untuk menetap di Sydney, Australia. Tapi, keinginannya ini ia kesampingkan karena Gereja di Cina membutuhkannya dan ia pun merindukan teman-teman kecil di panti asuhan. Keberanian dalam mengambil keputusan telah Mei Mei jalankan. Keinginan pribadi dinomerduakan. Dean memaklumi dan mendukung dengan memberikan nama baru, Mei. Tradisi di Cina, hanya orang tua yang dapat memberikan nama baru untuk anaknya yang telah dewasa. Dean menjelaskan bahwa “Mei” di Cina berarti musim semi dan di Australia berarti musim gugur. Mei dapat menjadi Mei di dua tempat.

Film “33 Postcards” telah memperluas kata “keluarga”. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), keluarga memiliki empat pengertian: 1) ibu dan bapak beserta anak-anaknya; seisi rumah; 2) orang seisi rumah yang menjadi tanggungan; 3) sanak saudara dan kaum kerabat; 4) satuan kekeluargaan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Tidak begitu berbeda dengan Wikipedia: keluarga (bahasa Sansekerta: “kulawarga”; “ras” dan “warga” yang berarti “anggota” adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.

Pengertian yang mungkin sempit itu ditentang oleh kisah Mei Mei. Cerita tentang anak perempuan berusia 16 tahun ini bisa jadi merupakan keadaan nyata di masyarakat. Nyatanya, banyak dari masyarakat kita (suami-istri) yang mengadopsi anak dari keluarga lain, baik alasan sulit memiliki momongan, kemandulan, atau bahkan untuk menolong si anak karena kemampuan finansial keluarga si anak tidak memadai. Dengan begitu, pengertian keluarga yang masih sempit (KBBI dan Wikipedia) itu dapat runtuh dan memunculkan pengertian baru.

Walaupun, pengertian keluarga yang keempat pada KBBI mendefinisikan “kekeluargaan yang sangat mendasar dalam masyarakat”, definisi ini hanya 1:3 definisi lainnya. Pun dalam KBBI, pengertian keempat ini dalam kamus tidak diberikan contoh kalimat sehingga menjadi abstrak, berbeda dengan tiga definisi lainnya yang disertai contoh kalimat. Ini menunjukkan pihak penyusun kamus tidak mendapatkan data nyata yang dapat menopang pendapatnya.

Saya kira, film “33 Postcard” ini dapat memunculkan pengertian baru tentang keluarga. Terlebih, layak menjadi salah satu bahan kita untuk merenungi makna keluarga. Mei Mei di Cina dapat efektif berkomunikasi melalui kartu pos dengan Dean Randall di Australia. Walau beda benua, nyatanya mereka dapat berdampingan, saling mendukung, memahami dan menghargai pilihan. Film ini mungkin bisa menggelitik keluarga (kita) yang secara lahir berdekatan, singkatnya tinggal dalam satu rumah, tapi ternyata secara batin berjarak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s