Sejarah Membuat Malu

540276_2824290017394_1736295880_n.jpg

Janganlah menangis Indonesia

Janganlah bersedih Indonesia

Kami berdiri menjagamu pertiwi… (Harry Roesli)

Almarhum Harry Roesli membuka dan menutup monolog Sejarah. Lagu Jangan Menangis Indonesia membuat suasana penonton menjadi senyap. Dengan kopiah hitam, baju dan celana komprang hitam, bendera merah putih di genggaman, Putu Wijaya (PW) melontarkan dialog, menyelang lagu Jangan Menangis Indonesia. Suara Harry Roesli memelan, membisik, berhenti.

Monolog Sejarah yang dihantar oleh almarhum Harry Roesli ini berkisah tentang Karna, seorang anak yang gila main komputer. Menjelang Ujian Nasional, orang tua Karna semakin cemas. Ujian tiba. Tapi, pengumuman hasil ujian membuat semua orang terkejut, nilai rata-rata Karna 10. Sekolah internasional datang melamar Karna, akan memberinya beasiswa hingga menyandang gelar doktor. Syaratnya, Karna harus dites sekali lagi. Karna bersedia. Hasilnya, sekolah internasional membuktikan bahwa Karna benar jenius. Tapi saat Karna akan dijemput pihak sekolah, ia keluar hanya memakai celana pendek dan sarung melilit tubuh. Karna tidak siap untuk pergi. Di depan orang tuanya, tetangga, wartawan, dan pihak sekolah internasional, Karna mengeluarkan brosur dari balik sarung. Karna menjelaskan penolakannya bersekolah di sekolah internasional itu karena di dalam brosurnya tidak ada pelajaran Sejarah Indonesia.

“Saya orang Indonesia,” tegas Karna di akhir Sejarah. “Bagaimana saya menjadi orang Indonesia jika saya tidak belajar sejarah Indonesia?”

Teranglah Sejarah menyoal keindonesian. Saya menontonnya pertama di Indofood Tower, Jakarta, pada Kamis malam, 18 November 2011. Di sana, PW bermain di lounge Syabas Energi, sebuah perusahaan pertambangan. Ruang yang sebagian besar diisi oleh sofa, kursi, dan meja, ditata menjadi tempat pertunjukkan. Penataannya hanya menggeser tempat duduk penonton untuk berporos ke panggung. Sedangkan panggung sudah termakan oleh piano yang sulit dikeluarkan dari ruang. Dari tempat memulai monolog, PW memiliki ruang bermain yang terbatas, tidak lebih dari tiga langkah besar orang dewasa ke kanan dan kiri, dua langkah ke depan, dan tidak sama sekali ke belakang. Tapi, terbatasnya ruang tidak menghambat PW bermonolog.

Monolog Sejarah di Jl. Sudirman ini terutama diperuntukkan bagi karyawan Syabas Energi. Penonton yang kurang lebih 35 orang yang kebanyakan belum pernah menonton teater itu tampak diam menyaksikan kelincahan PW. Kediamannya ternyata menghayati cerita. Usai pementasan, berlangsung semacam talkshow dengan PW. Berbagai respon positif terlontar, misalnya dari Yudi Latif. Seorang pemikir agama dan politik ini mengungkap dua hal: “Pertama, untuk bisa kita melompat ke depan, penting sekali kita mengerti akar sejarah kita. Kedua, Indonesia menjadi masalah ketika orang yang paling rabun sejarah itu orang-orang kelas tinggi.”

Pentingnya mengerti sejarah (Indonesia) juga disepakati penyanyi Glen Fredly lewat lembut suara dan dawai piano. Lagu tentang Pancasila sebagai rumah kita menjadi respon dari penyanyi yang sudah tidak asing di Indonesia, “Kalau boleh jujur, buat saya sangat reflektif sekali apa yang beliau bagikan. Dan saya merasa punya tanggung jawab, dan apa yang bisa saya buat lewat dunia seni ini jadi peranan penting hari ini.” Sesaat akan melantun, ia mengaku baru pertama kali melihat secara dekat dan langsung pertunjukkan PW. Sebelumnya ia hanya membaca tulisan PW dan mendengar cerita tentang sang aktor Sejarah ini.

Saya pun sama seperti Glen. Tapi, saya lebih beruntung karena mendapatkan kesempatan kedua dan ketiga menonton monolog Sejarah. Monolog Sejarah kedua saya saksikan di Bale Rumawat Unpad. Monolog pada Sabtu, 3 Desember 2011, ini berlangsung di gedung yang salah satu fungsinya memang untuk pertunjukkan teater. Panggung ukuran 4 x 6 meter disulap oleh kru Teater Mandiri dan panitia penyelenggara. Lantai panggung dilapis layar hitam dan pinggir panggung dilapis kain bekas spanduk. Lampu warna kuning, hijau, dan merah yang bergantian menyorot panggung semakin memberi efek dramatis. Penonton dari berbagai kalangan pun tersihir pertunjukkan PW.

Berbeda dengan monolog PW di Indofood Tower, pertunjukkan PW di Bale Rumawat dihadiri oleh antara lain: komunitas Teater Djati, Teater Tjerobong Paberik, dan Teater Bel Bandung, juga para wartawan, Praja IPDN, dosen-dosen, guru-guru, dan para mahasiswa dari berbagai tempat. Sebanyak 155 kursi yang tersedia tidak mampu menampung sekitar 180 jumlah penonton. Maka, undakan-undakan tangga beralih fungsi menjadi kursi. Meski duduk tidak sama tinggi, penonton sama-sama serius merespon pertunjukkan. PW bertanya, penonton menjawab. Penonton bersorai. Ramai tepuk tangan. Sepi. Riuh lagi. Senyap lagi. Begitulah kemahiran PW menyihir penonton.

Akademisi seperti Prof. Doktor Ganjar Kurnia, Rektor Unpad, dan Prof. Doktor C.W. Watson dari Kent University pun berhasil disihir PW. Setelah monolog, mereka bersama PW dan penonton lainnya terlibat diskusi sengit, di antaranya membahas pengajaran Sejarah di sekolah. Sang Rektor Unpad membahas pengajaran Sejarah di Indonesia yang antara lain lebih membahas tahun, misalnya pertanyaan tahun dalam ujian, bukan latar belakang terjadinya sejarah itu sendiri. Sedangkan PW sama seperti talkshow saat di lounge Syabas Energi, ia menceritakan proses kreatif monolog Sejarah berangkat dari dua peristiwa yang dialaminya. Pertama, ketika ia mengikuti seminar tentang sejarah di Jakarta pada tahun lalu. Di sana, Jero Wacik yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Budaya, mengungkap adanya satu jurusan SMA yang tidak mengajarkan Sejarah Indonesia. Kedua, saat ia bersama anaknya yang telah lulus SMP, Taksu, mencari SMA terbaik. Sampailah ia di sebuah SMA internasional yang bangunannya megah, pun kelengkapan fasilitasnya. Tapi, PW kecewa dan urung menyekolahkan Taksu di sana, karena Sejarah negara lain yang diajarkan, bukan Sejarah Indonesia.

Di sekolah internasional seperti itu kesempatan menonton monolog Sejarah ketiga kalinya tidak saya lewatkan. Di SMA Bina Nusantara (Binus) Jakarta pada Jumat, 16 Maret 2012, PW bermonolog di tempat yang disebut ruang drama. Di dalam ruang yang setengahnya berdinding cermin, panitia menyediakan kursi dan karpet di depan panggung untuk menampung sekitar 100 orang yang akan menyaksikan Sejarah. Penonton yang terdiri dari murid, guru, dan orang tua murid, semuanya menyambut permainan PW. Saat pertunjukan berlangsung, saya mendengar murid-murid mengucap, “Binus banget! Binus banget!” Walaupun terkesan menyindir, tapi penonton terkesima oleh pertunjukan PW. Dan setelah monolog usai, para murid, guru-guru, dan para orang tua bergantian foto bersama PW. Tidak sedikit yang bersalaman dan mengungkap rasa kagum kepada PW.

Tentu saja saya pun kagum pada PW. Pun dibuat malu, teringat masa sekolah dulu. Sejak SD sampai SMA saya tidak suka membaca, apalagi belajar Sejarah. Saya serius belajar Sejarah hanya saat menjelang ujian. Ujian usai, hafalan lenyap. Saat itu, jika saya menjadi Karna, mungkin saya akan senang dilamar sekolah yang tidak ada pelajaran Sejarah. Tapi, sejak kuliah di Sastra Indonesia Unpad, apalagi bergabung di Institut Nalar Jatinangor, bertahap saya dikenalkan buku-buku menarik. Misalnya, memoar masa perang Disguised, Sang Penyamar karya Rita la Fontaine de Clercq Zubli, kisah seorang anak perempuan saat masa Jepang menjajah di Jambi. Buku lain yang menarik minat baca saya antara lain kumpulan puisi Konde Penyair Han karya Hanna Fransisca, kisah anak perempuan keturunan tionghoa menghadapi tragedi 98.

Dua buku itu merangkul saya mendalami cerita, menggandeng ke tiap peristiwa. Saya seperti mata kamera dalam film yang melihat langsung kejadian. Tempat kejadian bebas saya imajinasikan, mengikuti tuturan pencerita. Saya mengingat peristiwa-peristiwa yang menegangkan atau mengesankan, misalnya dalam Disguised, Sang Penyamar. Seorang anak perempuan, Rita, menyamar menjadi anak laki-laki yang dipaksa bermain biola untuk menghibur tentara Jepang. Tentara Jepang itu ditemani tawanan perempuan dan mereka berciuman. Saya sangat membayangkan perasaan yang berkecambuk dalam diri anak itu.

Kisah-kisah seperti Rita terekam dalam diri saya, padahal tidak ada kewajiban untuk mengingatnya. Sementara, pelajaran Sejarah yang mestinya saya ingat malah sedikit atau malah tidak ada yang saya ingat. Tapi itu dulu, kini berkat buku-buku seperti memoar, puisi, atau novel perlahan saya jadi suka membaca, jadi kenal sejarah (Indonesia). Belajar sejarah jadi menyenangkan, jadi seperti main-main.

Begitu pula monolog Sejarah, batas main-main dan serius membaur. Dengan kepiawaiannya, PW menyadarkan banyak orang terhadap pentingnya mengerti dan memahami sejarah (Indonesia). Saya bayangkan monolog Sejarah dikelilingkan ke sekolah-sekolah, lalu setelahnya siswa-siswa disediakan ruang diskusi. Betapa asyiknya belajar sejarah dengan media seperti yang disuguhkan PW. Semoga saja bisa terwujud, agar almarhum Harry Roesli tidak terus menerus bernyanyi Jangan Menangis Indonesia.

 Jatinangor, 10 April 2012

*dimuat dalam harian Tribun Jabar

Alhamdulillah _D

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s