Dari Seorang Nenek di Tanjakan Ciseke

Usai magrib, terdengar hiruk-pikuk pejalan kaki. Mereka semua nyaris sama, membawa sajadah. Perempuan memeluk mukena. Laki-laki memakai peci dan menggantungkan sarung di pundaknya. Banyak juga yang sudah bermukena dan bersarung dari rumah. Mereka semua mau tarawih. Masjid pun jadi ramai.

Namun, suasana ramai ini tidak bertahan lama. Dari hari ke hari jemaah semakin berkurang. Di hari pertama, masjid penuh jemaah. Bahkan sampai meluber memenuhi teras. Tapi, di minggu kedua, hanya kurang dari setengahnya. Ketika minggu terakhir puasa, biasanya, malah hanya setengah shaf  laki-laki dan perempuan.

Begitulah suasana malam Ramadhan di lingkungan rumah saya di Patuha, Bekasi Selatan. Di perumahan ini, sebagian besar memang pendatang. Bukan penduduk asli Bekasi. Jadi, mungkin mudik bagi sebagian besar pemukimnya memang sudah mentradisi. Saya rasa, mereka bermaksud menjalankan sisa puasa di kampung halaman. Bertemu sanak saudara, para tetangga dan teman-teman semasa kanak. Menziarahi makam leluhur dan kerabat dekat. Juga, tentu saja, shalat Idul Fitri di tempat yang biasa mereka laksanakan sejak kecil.

Itu semua merupakan perwujudan kita sebagai makhluk sosial. Sebab, puasa bermanfaat untuk kehidupan masyarakat, bukan hanya untuk diri sendiri, misalnya mempererat ikatan persaudaraan dan menjaga silaturahmi.

Oleh karena itu, Ramadhan merupakan upaya penguatan solidaritas sosial. Terutama kepada kaum duafa. Lapar dan haus yang dialami selama berpuasa antara lain adalah sebuah jalan untuk membuat kita ingat dan merasakan kelaparan dan kehausan yang (kerap) merajam saudara-saudara kita yang papa. Kewajiban membayar zakat fitrah di ujung puasa merupakan penegas pentingnya kita saling bantu, terutama membantu kaum yang takmampu.

Saya termasuk beruntung. Tidak kekurangan sandang, pangan, dan bisa bersekolah. Bahkan kini saya tengah menjalani tahun ketiga kuliah di salah satu universitas ternama di negeri ini, yang salah satu kampusnya di Jatinangor. Tapi di kawasan pendidikan ini, beberapa hari lalu saya diam-diam merasa malu hati.

Di sini, saya mula-mula kos di Hegarmanah. Pada tahun kedua, saya pindah ke daerah Ciseke. Untuk ke kampus, dari kosan saya sekarang, sebelum menyebrangi Jl. Raya Jatinangor, saya harus melewati gang selebar rentangan tangan. Tiap menapaki gang ini untuk kuliah, saya selalu menjumpai seorang nenek yang duduk di pinggir tanjakan Ciseke. Nenek itu selalu duduk beralas sajadah merah bercorak Ka’bah. Di kanannya, tergeletak kantong plastik hitam. Dari kejauhan, saya sering melihatnya sedang mengaji.

Semula, nenek bersarung kotak-kotak coklat itu tampak seperti peminta-minta. Tapi, setelah berkali-kali melihatnya, saya ternyata keliru. Ia tidak pernah meminta-minta. Justru ia selalu menyapa dan mendoakan setiap orang yang melewatinya. Misal, ketika saya berangkat kuliah, ia selalu berkata, “Bade kuliah? Hati-hati, Neng. Mugi-mugi….”

Keramahan terpancar dari wajahnya. Ia selalu tahu saat musim ujian tiba atau saat musim libur kuliah. Saya katakan demikian karena kerap saat sedang masa ujian, ia terdengar mendoakan agar saya atau mahasiswa lain berhasil. Sedang pada musim liburan, ia berdoa untuk keselamatan perjalanan mahasiswa ke daerah asal.

Ia memang tidak meminta-minta. Namun, bila ada yang memberinya uang, makanan, atau apapun, ia tampak senang hati menerima. Ketulusan doanya semakin terdengar. Matanya berbinar. Senyumnya pun makin lebar. Hingga saya bisa melihat giginya yang menghitam.

Hal lain yang menarik dari nenek itu adalah selalu ia ingin berjabat tangan. Ketika mendoakan, ia menyodorkan tangannya yang telapaknya selembut permukaan air untuk bersalaman. Tapi, ada saja orang yang tidak menggubrisnya. Meski demikian, ia tidak tampak kesal. Takberjabat, takdiberi apapun, ia tetap mendoakan.

Nenek itulah yang membuat saya diam-diam merasa malu beberapa hari lalu. Saya melihatnya lagi pada beberapa hari lalu itu. Dan yang saya lihat adalah yang sudah berkali-kali saya lihat. Di pinggir tanjakan Ciseke, di atas sajadah merah bercorak Ka’bah, di samping kantong plastik hitam, ia bersandar pada tembok rumah makan soto ayam, duduk dengan mulut takputus-putus menghembuskan doa. Entah kenapa, saya jadi tiba-tiba menyadari sesuatu yang selama ini terlupa. Bukan bermaksud angkuh, dari segi ekonomi, jelas saya lebih beruntung. Tapi, kapan pernah saya mendoakan orang seperti yang selalu dilakukan oleh nenek berjilbab itu?

Saya menunduk. Mata saya perlahan terbuka. Orang-orang yang takseberuntung saya membayang. Bayang-bayang mereka seperti mengingatkan bahwa solidaritas saya kepada kaum duafa masih memprihatinkan. Saya menggigit bibir. Hati saya malu. Perih. Terlebih saat mencuat dugaan, jangan-jangan yang solidaritasnya masih memprihatinkan bukan saya belaka. Jangan-jangan taksedikit dari kita yang hidup dengan mata tertutup.

Jika demikian, betapa penting bulan Ramadhan. Betapa penting melakoni puasa sebagaimana yang dititahkan-Nya. Terlebih jika kita menyadari apa yang disarankan Nurcholis Madjid: “Puasa adalah untuk kebaikan diri kita sendiri baik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat yang lebih luas.”**

Jatinangor, 16 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s