Mudik Hanya Mimpi

lonjakan-penumpang-di-terminal-bus-leuwipanjang-bandung_20150105_155836.jpg

Semalam saya bermimpi. Pulang kampung ke Bandung. Mudik setelah satu bulan berpuasa. Berkumpul bersama keluarga besar. Merayakan Idul Fitri. Bersama, kami memakai baju baru. Pun makan opor ayam. Ketika terbangun saya melihat cerpen Ke Solo, Ke Njati… karya Umar Kayam tergeletak di samping bantal. Sebelum tidur saya membacanya. Kini jadi teringat kisahnya.

Terbayang seorang ibu yang berjuang untuk bisa mudik. Menggandeng kedua anaknya yang masih kecil, yang paling besar baru mau masuk Sekolah Dasar. Mereka berhimpit hendak masuk ke bis jurusan Wonogiri. Bawaannya bergenteyongan di pundak dan punggungnya.

Itu perjuangan pada hari Lebaran pertama. Hari itu gagal karena saat sudah di pintu bis, mainan anaknya jatuh. Dan pada saat itu, sekelebat dilihatnya sebuah tangan ingin merenggut tasnya. Ia mampu mengibaskannya. Dengan gesit, ia melepaskan genggaman anaknya dan memungut mainan. Oleh karena itulah, ia gagal masuk bis. Tersingkir oleh orang-orang yang bejubel berebut masuk.

“Besok kita coba lagi, ya?”, hibur si ibu. Lalu mereka pulang. Pulang. Itu berarti ke kamar sewaan yang terselip di tengah kampung yang agak kumuh di bilangan Kali Malang. Keesokan harinya, mereka mencoba lagi. Tapi setelah berkunjung ke makam suaminya.

Sepeninggal suaminya, ia harus seorang diri membesarkan anak. Ia bekerja sebagai pembantu.  Tanpa di sadarinya, tabungan yang dikumpulkannya dari sisa dan persenan dari sana-sini terkumpul agak banyak juga selama tiga tahun itu. Terbayang oleh saya, perjuangannya mengumpulkan uang selama tiga tahun, demi untuk bisa pulang ke kampung.

Ia sudah kukuh untuk pulang. Rayuan majikannya tidak mempan menahan dirinya. Maka, ia pun menceritakan keadaan Njati ke kedua anaknya. “Waa, kita mau lihat Solo, Dik. Solo, Solo, Solo.” Ke Njati akan melewati Solo. Daerah itulah yang menurutnya paling indah. Disampaikanyalah ke anak-anaknya.

Sekarang pada hari Lebaran kedua, mereka gagal lagi. Di hari kedua, terminal malah semakin membeludak. Ibu dan kedua anak itu tersisih karena desakan, tarikan, dan gencetan dari orang-orang yang juga ingin pulang kampung. Akhirnya mereka melindungi diri dari hujan, di warung.

Uangnya sudah ludes. Habis oleh calo karcis, ongkos bolak-balik bajaj, jajan, dan oleh-oleh yang akan dibawa. “Iya, Nak. Nggak apa, ya? Tahun depan kita coba lagi.” Si ibu menjajikan ke Kebon Binatang. Malam hari ia kembali ke tempat majikannya. Berharap masih ada pekerjaan.

Saya tertarik dengan bagian akhir cerpen ini. Saat gagal dan kembali bekerja, majikannya malah mensyukurinya. Malah takada kata-kata menghibur, “To, saya bilang apa. Saya bilang apa. Sokur tidak dapat bis kamu. Ayo sini bantu kami sini. Tuh piring-piring kotor masih menumpuk di dapur. Sana…….” Buat majikannya, kegagalan pembantunya malah menjadi berkah.

Takada rasa belas kasih dari majikannya. Memahami perasaan pembantunya saja rasanya tidak. Keuntungan dan keuntungan yang dibutuhkan. Memang, majikannya itu seperti memedulikannya. Ketika menahan keberangkatan si Ibu, ia membujuk bahwa anak-anaknya akan datang. Persenan dari para tamu pun akan lebih banyak. Namun, bujukannya itu lebih dari keuntungan pribadi yang juga akan majikannya dapat.

Si ibu membutuhkan waktu tiga tahun mengumpulkan uang untuk bisa mudik. Ditambah lagi anaknya yang besar tahun ini masuk Sekolah Dasar. Jika takada kemajuan dari keadaannya kini, sepertinya butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk bisa mewujudkan mimpinya, mudik. Itu pun kalau kebagian bis.

Cerpen ini menjadi kontekstual. Di bulan Ramadhan ini, umat muslim diwajibkan berpuasa. Bulan baru berikutnya, di awal Syawal, hari kemenangan menyambut.  Takbir berkumandang di mana-mana. Terminal, stasiun, dan pelabuhan biasanya meluap oleh penumpang. Semua berebut menuju kampung halaman.

Kalau saya, pulang kampung bisa bolak-balik dalam sehari. Jarak dekat, Bekasi-Bandung, ongkos pun tidak begitu menguras. Dibanding orang-orang yang musti sampai menyebarang pulau atau paling tidak ke provinsi lain. Ongkos yang musti dikeluarkan pun lebih besar. Belum lagi ongkos hidup di sana.

Saya rasa banyak juga orang seperti ibu dalan cerpen Ke Solo, Ke Njati… yang gagal pulang kampung. Uang ludes. Jangankan ongkos mudik. Untuk membeli opor ayam pun, bisa jadi hanya mimpi.

Jatinangor, 9 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s