H-1

Di stasiun Bekasi, kami bertemu. Ia langsung mengantri di loket. Memesan kereta jurusan Jakarta lewat Sentiong. Ternyata harga kereta naik Rp2000. Biasanya Rp4500 per orang.

“Biasa, kalau bulan puasa. Apalagi kalau mau lebaran.” gerutunya mungkin karena lapar. Belum makan.

Aku mengajaknya jajan tahu bulat. Sebenarnya aku sudah ingin beli ini ketika baru sampai di stasiun. Saat menunggunya datang.

Lalu, kami membeli 10 tahu, Rp500 per tahu. Dia menyodorkan selembar uang Rp5.000 dari dompetnya. Aku tersenyum.

Saat masuk stasiun. Kami melihat kios yang menjual aneka kue. Dia pun ternyata ingin. Maka kami mampir ke sana. Membeli dua risoles dan dua kue manis. Aku tidak tahu namanya. Kue itu bulat berwarna kuning. Di bagian bawahnya bercak-bercak coklat. Dia memilih satu kismis di bagian atas. Sementara aku memilih yang atasnya berwarna hijau dan terdapat satu lempeng kelapa. Kali ini aku yang bayar.

Kami hanya menunggu kurang lebih 15 menit. Dan kereta berangkat pukul 10.35.

Mungkin karena masih pagi kereta lengang. Kami pun bisa duduk di atas bangku empuk berwarna coklat, seperti naik angkot. Berhadapan dengan penumpang lain.

Kereta ini berasal dari Jepang. Aku bisa melihat huruf-huruf hiragana dan katakana yang pernah aku pelajari. Di sini, kereta api seperti ini sangat nyaman. Bersih dan sejuk. Jauh sekali dibanding kereta ekonomi ke luar kota. Padahal yang kuketahui, kereta seperti ini sudah tidak dipakai di negara asalnya. Jadi, seperti apa kereta di sana, kalau yang seperti ini saja sudah tidak layak?

Itu hanya pikiranku saja. Aku tidak melontarkan padanya. Kami asik menikmati tahu bulat dan kue. Kami pun asik berbincang, soal buku yang sedang ia baca. Aku mendengarkan dan tidak banyak berkomentar karena aku belum membacanya. Kentut Kosmopolitan karya Seno Gumira Ajidarma.

Tidak terasa, kami pun sampai. Turun di Sentiong. Lalu melanjutkan perjalanan untuk sampai ke Johar. Rumah neneknya berada.

Kami naik bajaj. Aku senang sekali. Ini adalah bajaj kedua yang aku tumpangi. Setelah dulu, bersamanya juga, pun ke rumah neneknya.

Bajaj melaju. Pemandangan baru. Di kiri-kanan penjual bunga dan air mawar dalam botol merebak. Semakin bajaj ke dalam, semakin banyak pedagang. Di atas meja, mereka menata dagangannya. Bunga mawar, bunga pacar cina, dan daun pandan menggunung. Banyak pula yang sudah dibungkus plastik. Berjajar bersama botol-botol yang berdiri tegak.

Belum sampai di tempat tujuan. Seorang bapak-bapak menyetop. Sampai sini saja, katanya. Jalan di depan di tutup. Ya, mau tidak mau kami turun. Menyusuri jalan yang hanya muat untuk satu mobil. Namun, kali ini motor pun agaknya sulit. Bahu kiri-kanan jalan dipenuhi pedagang bunga dan jajanan. Bahkan saya lihat ada penjual pakaian dan kerudung.

Kami menyadari. Ini hari yang tepat untuk nyekar. Sebelum masuk ke bulan puasa. Wajar saja seperti ini.

Dia, yang semestinya hafal dengan jalur menuju rumah nenek, linglung. Kami berjalan lurus dan mentok di pemakaman. Lalu kami memutar balik. Berjalan lagi dan kali ini tidak kembali ke tempat asal tapi berbelok ke kiri.

Di sini, tidak ada penjual. Jalan tampak sepi. Kami berjalan terus. Hingga keramaian mulai lagi. Ternyata kami kembali ke tempat asal. Tempat saat kami turun dari bajaj. Aku tertawa saja. Menikmati tersesatnya kami di tengah kota.

Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya. “Pak, ke Johar jalan mana ya?”

“Bener ini. Lurus. Terus lurus. Mentok. Ke kiri. Lurus lagi, sampe jalan raya.” Begitulah bapak yang mengampar dagangannya menerangkan. Sambil memperagakan arah dengan tangannya.

Kami mengikuti petunjuk jalan dari si bapak tadi. Agak ragu. Kami tetap berjalan. Hingga yakin inilah jalan yang benar. Kini, kami berada di jalan besar. Pasar Johar di depan mata. Matahari sedari tadi menemani. Semakin berasa kehadirannya di jalan ini.

“Maaf. Cape ya?”

Aku benar-benar tidak tahan. Bukan karena berjalan jauh dan teriknya matahari. Tapi lebih karena kebelet buang air kecil. Tapi, aku menikmati ini. Jarang-jarang aku seperti ini.

Akhirnya, sampai juga kami di gang rumah neneknya. Kami masuk ke dalam. Gang yang hanya muat untuk dua orang berjalan berdampingan. Kiri-kanannya selokan tidak berbatas. Aku akan khawatir sekali bila memiliki anak dan tinggal di sini. Aku membayangkan anak-anak bermain dan terjatuh ke dalam got.

Bayanganku sirna ketika memasuki rumah neneknya. Aku menyukai rumah itu. Tampak paling jadul dibanding rumah sekitarnya. Aku menyukainya karna ada banyak tanaman dalam pot memenuhi teras dan ada kolam ikan walau berair hijau. Meski tidak jelas, aku bisa melihat ikan-ikan itu berenang.

Dia langsung membuka pintu dan memanggil-manggil nenek hingga sampai di dapur. Ternyata neneknya sedang memasak. Pas sekali dengan kami yang kelaparan. Haha.

Aku pun menyalami nenek. Ini kesekian kalinya kami bertemu. Dan aku pun langsung saja izin ke kamar mandi. Unik sekali kamar mandinya. Pintunya hanya dari plastik warna jingga. Dan aku terkesan dengan bak mandinya. Tinggi bak sepinggangku. Namun, ke dalamannya aku taksir hanya 30cm. Hingga memudahkan membersihkannya. Tanpa harus merogok sampai kaki.

Kami langsung makan.  Duduk berdua di meja makan. Menikmati sop ayam buatan nenek.

“Ini sop terenak. Sop mama aja kalah. Kalau mama sayur kacang merahnya. Mantap.”

Aku mengiyakan. Sop itu memang enak. Terlebih rasa lapar yang sudah menyerang. Nasinya pun bukan dari rice cooker. Rasanya berbeda. Kematangannya merata.

Setelah makan siang. Kami duduk di atas kasur palembang. Menonton tv di ruang tengah. Dia sambil mengobrol dengan nenek yang duduk di sofa di belakang kami. Aku menikmati manisan pepaya yang disuguhkan nenek. Benar enak. Aku sampai habis tiga bungkus. Manisan itu dingin, dari lemari es. Di tambah udara menyengat. Manisan ini terasa lebih nikmat.

Belum turun makanan-makanan dalam perut. Nenek membawa dua mangkuk baso. Aku pun melahapnya. Nikmaaaaaat. Pedas asam asin, menyatu. Mie kuning pun bersatu dengan soun. Tiga baso kecil dan satu baso besar. Aku memakan sawi terlebih dahulu. Hijau tuanya dalam kuah menggugah selera. Terbukti, enak! Aku suka basonya. Kekenyalannya dan kematangannya pas. Tidak lembek dan tidak keras.

Tuntas baso, aku menyeruput air dingin. Di sana, aku menghabiskan dua botol air 600ml. Udara panas, air dingin yang mengalir dalam tubuh seakan mengobati, apalagi ketika turun dari tenggorokan. Rasa dingin seakan terus turun hingga ke perut. Sejenak aku merasa sejuk.

Tidak lama setelah itu, datang kedua kakaknya dari Bekasi. Terlihat sekali rasa panas dari kedua wajah mereka. Aku bisa membayangkannya. Naik motor. Kepala dibekap helm. Udara menguap di dalamnya. Berubah menjadi lelehan keringat. Ketika aku melihat. Rambut mereka lepek, seperti menyatu dengan kulit. Aku bersyukur karna naik kereta api.

Tidak terasa kurang lebih empat jam kami di sana. Akhirnya, pukul empat kami memutuskan pulang. Pamit dengan nenek.

Terik matahari telah berpindah ke bagian bumi yang lain. Kami berjalan, berbincang, bercanda, hingga sampai di stasiun.

Begitu sampai. Kami langsung membeli tiket. Lalu menunggu. Duduk di bangku dari gelondongan besi. Di sebelah bangku kami, duduk penjual otak-otak. Dalam keranjangnya aku lihat otak-otak berbungkus daun. Bagian tengahnya gosong, seperti arang. Aku lihat pula botol-botol bekas sirup berisi kuahnya. Bumbu kacang kemerahan yang telah diolah.

Aku mendekatinya. Membeli yang sudah dikupas. Menjadi satu paket bersama otak-otak goreng berbetuk bulat. Rp3.000 yang aku butuhkan untuk bisa menyantapnya. Kemudian, penjual itu membuka plastik yang sudah distreples. Menuangkan bumbu dari botol. Bumbu kacang lumer menyelimuti otak-otak.

Selesai dengan transaksi itu. Aku kembali duduk di sebelahnya. Menawarkan satu bungkus otak-otak. Dan kami pun memakannya, bersama.

Sembari menunggu kereta, kami membicarakan catatan perjalanan yang aku buat ketika dari Jatinangor. Aku membahas tentang imaginasi. Dia pun membahas catatan perjalanan saat ke Kiara Payung. Menceritakan kembali yang sudah ditulisnya.

Setelah pembicaraan itu, ia mengeluarkan psp. Bermain catur dalam kotak hitam. Dia menyodorkan buku Kentut Kosmopolitan. Aku tidak habis membaca satu bab. Konsentrasiku sedang buruk. Akhirnya, kami mengobrol lagi.

Sehabis menunggu 35 menit, kereta datang pukul lima sore. Sudah takada bangku yang tersisa. Jadi, kami berdiri dekat pintu. Takhabis-habisnya kami berbincang. Di dalam kereta pun kami habiskan dengan mengobrol. Gemuruh kereta mengiringi perjalanan. Kereta yang melaju menggoyang-goyang kami. Lebih terasa karena kami berdiri. Lagi-lagi, aku menikmati momen ini. Jarang sekali aku naik kereta.

Setengah perjalanan, ketika di stasiun Jatinegara, ada peristiwa di dalam kereta yang menarik perhatianku. Seorang ibu tawar menawar dengan kondektur. Ibu itu bersama dua anak sekitar kelas dua SMP. Tapi, ia hanya mempunyai dua tiket. Aku jadi teringat novel 86.

“Ibu kan bertiga, turun aja dulu. Beli tiket di loket. Nanti naik lagi.”

Si ibu tidak mau. Nanti ia tertinggal kereta dan harus menunggu lama. Kondektur sudah menerangkan, dua tiket yang sudah bolong ini nanti bisa dipake lagi. Jelaskan saja perkaranya. Kondekturpun memberi obsi lain. Dengan membeli tiket di atas kereta Rp20.000. Tentu saja si ibu enggan.

“Ini aja nih, Rp10.000. Buat Masnya.” Bujuk ibu itu sambil mengeluarkan uang dari tasnya.

“Ga bisa, bu. Ini peraturan. Mau beli di sini atau di loket?”

“Yaudah deh. Ini” sembari menyodorkan empat lembar lima ribuan.

Kondektur itu pun menyobek tiket seharga Rp20.000. Sementara si ibu berkaca mata coklat itu melanjutkan kesibukannya dengan Blackberry-nya. Kejadian itu tepat di depanku. Aku jadi bisa menyaksikan serangkaian peristiwa baru itu buatku. Setelah itu aku kembali mengobrol dengannya.

Satu jam perjalanan, kami kembali tiba di Bekasi. Kembali ke tanah kelahiranku. Turun dari kereta, kami menyusuri lorong stasiun. Di ujung lorong, kami disambut senja. Lalu, kami berjalan menuju seberang stasiun. Masuk ke tempat makan yang di depannya terpampang berbagai mpek-mpek dalam etalase.

Di atas rumah makan itu terpajang gambar ikan tenggiri cukup besar. Selebar pintu rukonya. Di bawah ikan itu, tertulis Pempek Gaby. Warna kuning melatari ikan dan tulisan itu.

Kami masuk. Ternyata tidak ada lagi tempat duduk yang kosong. Kami memutuskan menunggu. Karena makan di sini sudah kami rencanakan ketika keberangkatan kereta ke Jakarta. Penantian kami pun tidak sia-sia. Kami akhirnya duduk. Meskipun satu meja bersama suami-istri dan anak perempuan.

Seorang pelayan laki-laki yang tampak lelah mendekati. Kami pun langsung memesan. Aku memesan satu pempek lenggang dan dua kulit sementara dia memesan satu pempek lenjer dan sama, dua kulit. Minuman, kami pesan es jeruk.

Tidak menunggu lama, pesanan datang. Pempek dibumbui ebi atau udang kering yang sudah dihaluskan. Ditambah mentimun yang dipotong kecil-kecil. Kuah dalam botol tegak di atas meja. Kami pun menuangkannya secukupnya. Aku mengucurkan kuah atau air cuka pempek yang hitam legam hingga membanjiri isinya. Pempek pun terendam dalam kuah.

Walaupun minuman kami belum datang. Kami sudah menyantap pempek lebih dahulu. Pedas asam kuah mengisi ruang mulut. Kenyal pempek dan rasa ikan yang terasa menggoda lidah. Membuatku terus merindukan kuliner ini. Hingga, tiap kali ada kesempatan kami tidak lupa mampir ke sini.

Setengah habis makananku, es jeruk datang. Langsung saja kuseropot. Nikmat sekali. Dinginnya manis asam jeruk memperkaya rasa. Kental jeruk berasa. Manisnya pas. Asamnya sesuai seleraku. Dua teguk es jeruk. Lalu aku melanjutkan makan.

“Sama kaya baju kita” aku membutuhkan waktu untuk mencerna kalimatnya.

“Sedotannya” jelasnya.

Oh ya ya ya. Benar sekali. Aku memakai baju warna biru dan ia merah. Sesuai dengan sedotan kami.

Pempek sudah tidak berenang. Setengah kuahnya sudah berpindah dalam perutku. Aku melanjutkan untuk menghabiskannya. Rasa asam pempek kututup dengan asam jeruk. Es batu masih bersisa dalam gelas. Aku tinggalkan es batu itu.

Kami berjalan keluar. Aku lihat keringat mengucur dari dahinya. Aku masih ingat. Dulu dia pernah bilang, “Bukti makanan enak, kalau keringetan.”

Kami berpisah. Angkot kami berbeda. Aku ke arah kiri. Dia ke kanan. Aku harus cepat sampai rumah. Setengah jam lagi, aku harus ke Masjid untuk tarawih pertama tahun ini.

Bekasi, 2 Agustus 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s