Diskriminasi Perempuan di Kawasan Pendidikan

250070_1815976610189_28000_n

Jatinangor kembali riuh. Kota kecamatan di Kabupaten Sumedang ini kembali diserbu para mahasiswa baru yang berdatangan dari berbagai pelosok Indonesia. Mereka bukan saja mendaftarkan diri dan melihat-lihat kampus, tapi pun sibuk mencari-cari tempat kos.

Melihat mereka demikian, saya jadi teringat tahun 2009. Pada tahun itu saya menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Di tahun itu pula saya memulai mengalami sesuatu yang baru: tinggal di kosan.

Kosan saya tidak jauh dari gerbang Unpad lama. Kosan saya terletak di gang sempit Hegarmanah. Berdempetan dengan kos-kosan lain. Ventilasinya bisa dikatakan buruk. Udaranya lembab.

Namun, kosan itu tidak jauh dari kampus, dekat dengan gerbang Unpad lama, suasananya terasa betul jauh dari “ngota”. Posisinya dalam rumah yang berpagar, berteras, berpintu gerbang. Lantainya terbuat dari ubin. Rumah ibu kos pun bersebelahan dengan kosan ini. Warunglah yang menjadi penghubung antara rumah ibu dan kosan.

Ibu kos pun memiliki dua orang anak yang masih kecil, laki-laki dan perempuan. Saya sering bermain dan belajar dengan mereka. Sering anak perempuan yang masih duduk di bangku sekolah dasar, datang ke kamar. Minta dikoreksikan tugas sekolah. Saya pun menjadi guru dadakan. Mengajari pelajaran sekolah, terutama matematika.

Kebiasaan demikian membuat saya tidak merasa sendirian. Saya merasa berada di tengah keluarga.

Saya juga teringat keuangan orang tua saya. Rata-rata harga kosan di Jatinangor berkisar 3,5 juta sampai 6 juta rupiah per tahun. Sedangkan harga kosan ini per tahun 2,5 juta rupiah. Jadi, sudah memberi rasa bermukim di tengah keluarga, harga kosan itu pun terhitung murah. Saya jadi bisa tidak menambah beban orang tua yang telah mengeluarkan uang hingga belasan juta untuk awal pendidikan saya di Jatinangor ini.

Namun, pada akhirnya, saya memutuskan untuk pindah kosan pada tahun pertama. Prasangka ibu kos di sana membuat rasa bermukim di tengah keluarga hilang. Kenyamanan saya runtuh.

Awalnya sepasang sepatu laki-laki yang ada di depan kamar. Benda ini membuat ia mengirim pesan singkat via handphone pada dini hari. Isinya, teguran karena saya dianggap telah bertindak tidak senonoh, dan minta dibukakan pintu.

Saat itu, saya sadar, ini salah paham. Teman saya yang baru pulang dari kampus menitipkannya karena sepatunya basah. Letak kosan saya lebih dekat daripada kosannya, maka ia mampir untuk meminjam sendal. Saya pun dengan santai membukakan pintu. Saya mau menjelaskan itu untuk meluruskan kesalahpahaman.

Tapi, ketika saya membuka pintu, ibu kos baru saja dari kamar mandi. Melihat kamar saya tidak ada laki-laki, ia malah berkata, “Tadi ibu dengar suara pintu depan. Keluar, ya?” Seketika panas tubuh saya meningkat. Saya hanya menanggapi, “Enggak. Ga ada yang keluar.” Tapi ibu kos itu tampak tidak percaya.

Padahal benar tidak ada laki-laki yang keluar dari kamar kosan saya. Benar bahwa benda di depan kamar kosan saya itu sepatu laki-laki. Tapi jika ibu kos memperhatikan, ia akan tahu bahwa sepatu titipan teman saya itu sudah berhari-hari tergeletak di situ. Sayang ibu kos tidak memperhatikannya. Lebih sayang lagi adanya benda titipan itu langsung membuatnya menuduh saya, dan tuduhannya disampaikan dengan cara yang tidak mengenakkan pula. Tentulah saya tidak bisa menerima. Juga tidak bisa hanya menyimpannya di dalam benak saya sendiri.

Saya ceritakan peristiwa itu pada seorang teman. Kasus serupa ternyata dialami pula oleh teman kosnya. Dia bercerita bahwa ketika temannya pindah kamar, temannya itu meminta bantuan laki-laki yang kos di lantai bawah, yang memang kosan khusus laki-laki. Setelah angkut-angkut barang selesai, ia diperingatkan oleh penjaga kosan, untuk tidak lagi membawa laki-laki ke tingkat dua.

Jadilah panas tubuh saya kembali meningkat. Lebih lagi ibu kos saya kemudian menindaklanjuti prasangkanya yang negatif itu dengan menyodorkan pada saya satu pigura bertuliskan peraturan-peraturan. Juga mengucapkannya untuk menegaskan. Padahal ini sudah saya baca sebelum saya mengiyakan tinggal di sana.

Saya mengiyakan peraturan-peraturan itu karena peraturan-peraturan itu kita perlukan, Tanpa peraturan-peraturan, hidup kita akan acak-acakan. Tapi penyodoran pigura dan penegasan isinya adalah penegasan tuduhan yang tidak berdasar. Dan, tentang peraturan ini, rasanya ada juga yang ganjil. Lihatlah tempat kos laki-laki. Di situ pun kebanyakan memang ada sejumlah peraturan. Tapi jarang ada aturan mengenai jam malam seperti halnya peraturan di tempat kos perempuan.

Keganjilan ini saya bawa ke Perpustakaan Nalar. Saya sampaikan pada kawan-kawan yang sore itu ada di sana. Seorang demi seorang melontar tanggapan. Sudut pandang mereka beragam. Hampir semua memperlihatkan segi-segi yang sebelumnya tidak saya lihat. Misalnya, Mona Sylviana.  Penulis yang pada Agustus 2011 kumpulan cerpennya, Wajah Terakhir, akan terbit ini membilang  bahwa peraturan yang ganjil itu adalah karena perempuan bisa hamil dan laki-laki tidak.

Saya agak terkesiap. Mungkin memang itu soalnya. Perempuan bisa hamil dan laki-laki tidak.  Karena itu, laki-laki boleh keluar masuk kamar kosnya jam berapa pun, laki-laki boleh berada bersama perempuan di kamar kosnya sampai jam berapa pun. Sebab jika kebersamaan itu sampai berbuah kehamilan di luar nikah, tempat kos laki-laki tidak akan cemar. Yang tercemar adalah tempat kos yang (bisa) hamil itu.

Menginsyafi itu, lagi-lagi panas tubuh saya jadi kembali meningkat. Ini kali kita sudah hidup di abad XXl. Dan Jatinangor adalah kawasan pendidikan tinggi. Di sini ada empat kampus. Semuanya mengemban kewajiban untuk mewujudkan sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Tetapi kenapa kini dan di sini masih pula perempuan didiskriminasi?

Jatinangor, 26 Juli 2011

*Tulisan dimuat di Harian Umum Tribun Jabar. Jumat, 29 Juli 2011

250070_1815976610189_28000_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s