Daun Hati(-hati)

light-women-trees-dark-night-forest-alone-fantasy-art-1440x900-wallpaper_www-wallpapername-com_33.jpg

Malam ini, aku bersama teman-teman Nalar akan ke Kiara Payung. Berangkatlah kami, pukul delapan. Kesepakatan, berjalan tanpa kata. Keluar dari gerbang, kami menyebrang. Lalu terus berjalan, melintasi gerbang lama Unpad.

Posisi terdepan, aku berada. Sengaja. Ingin menyembunyikan mata.

“Benteng” Unpad dan pagar Fisip yang aku lewati sekarang, selalu menjadi bahan obrolan kami di Nalar. Karena selain menghamburkan uang, rasanya justru membatasi diri dari masyarakat. Namun, sekarang pembatas ini tidak menarik perhatianku. Aku hanya ingin berjalan, terdepan, sendirian.

Aku berjalan di lorong untuk pejalan kaki. Sampailah aku di pintu asrama Pedca. Menunggu Jeni mengambil jaket di kamarnya. Aku memilih duduk di bangku, di bawah pohon. Terang oleh lampu kuning jalanan. Teman-temanku terus berjalan, hingga sampai di batas antara Fakultas Fisip dan Sastra.

Sementara, pikiranku masih mengawang-ngawang. Aku melihat daun mungil di bawah kakiku. Aku mengambilnya. Mengelus-elus daun itu, sambil tertunduk.

Ketika aku membungkuk, menaruh daun itu di tempat asalnya, air mata kiri menetes. Tepat di sebelah daun. Lantas, kutegakkan badan, untuk menahan keluar lebih banyak. Tapi malah, air mata kananku mengalir.

Aku berusaha memikirkan hal lain. Menghibur diri. Lalu memutuskan diri bangkit dari duduk. Berjalan-jalan kecil sekitar pagar Pedca. Kulihat Jeni datang. Aku melanjutkan perjalananku. Tetap, menjaga jarak dengan yang lain. Di trotoar sebelah kanan, aku menapak.

Melintasi Sastra, beberapa orang berbaju hitam berteriak-teriak. “Tunduk. Tunduk putra, tunduk putri.” Aku mengintip dari sela-sela pagar. Ternyata mereka berdialog sendiri. Latihan. Tanpa ada mahasiswa baru bohongan.

Kulanjutkan perjalananku. Badanku mulai menggigil. Mungkin, karena fokus pikiranku pecah.

Di perbatasan antara fakultas Sastra dan Fikom, gelap. Takada lampu jalanan. Di bawah kanan, aku melihat lampu-lampu rumah dan kos-kosan. Ketika kualihkan mataku ke atas, titik-titik cahaya bintang taklebih banyak dari titik-titik cahaya lampu dari rumah-rumah. Pemandangan itu kusaksikan hingga tepat di depan Fakultas Ilmu Komunikasi. Dan di sini, cahaya lampu jalan kembali.

Aku berjalan, menunduk, menatap sepatu. Ada hal yang menarik. Aku menemukan daun berbentuk hati. Kuangkat dari aspal jalan. Aku pun merasa berteman.

Dua langkah dari sana, aku pun menjumpai daun hati yang lain. Aku sempat berhenti. Mengambilnya. Taktega meninggalkannya dalam sepi. Kini, dua hati ditanganku, kiri dan kanan. Sambil terus berjalan, aku memerhatikan kedua daun itu. Perasaanku lebih baik. Taklagi mataku berkaca-kaca.

Di tangan kiriku, daun pertama, tampak lebih hijau. Mulus. Namun, berlubang. Sementara, di tangan kananku, daun sudah lebih coklat bintik hitam, tanpa lubang.

Aku terus berjalan. Agak terhambat. Jalan lebih mendaki. Lebih berat. Kuputuskan melepas sepatu. Menjinjingnya. Dan nyaman betul.

Kakiku seperti dipijit-pijit. Aspal yang bila mengenakan sepatu terasa datar. Tapi, ketika bertelanjang kaki, Kau akan merasakan tekanan-tekanan kerikil batu.

Sekarang, sepasang sepatu di tangan kananku. Dua daun di tangan kiri. Aku sadar, takbisa aku membawa keduanya. Merepotkan. Harus kupilih salah satu. Tapi yang mana?

Pikiranku masih mengawang-ngawang. Namun, kali ini pada daun. Hingga jalan bercabang dan aku taktau harus kemana.

Kulihat halte yang suram. Di seberangnya lampu jalan bercahaya. Aku benar takut gelap. Maka, kuputuskan menunggu di tengah jalan. Duduk. Sepatu kuletakkan. Sedangkan tangan, masih menggenggam dua tangkai daun.

Kang Luthfi melewatiku. Mengambil jalan ke kiri. Aku mengikutinya. Masih bertelanjang kaki. Hingga tiba dijalan tikus, sebelah pembangunan rektorat. Aku memakai sepatu. Takut ada beling, lalu luka, dan merepotkan semua.

Lintasan itu sangat berbeda. Jalan masih asli tanah. Kiri-kanan ilalang dan rumput-rumput selutut. Aku membayangkan. Kalau tiba-tiba, clup, seekor ular menggigit. Akan seperti apa jadinya.

Lintasan ini berakhir dengan jalan beraspal lagi. Namun, kali ini takselebar jalan Unpad. Paling-paling selebar rentangan tangan dua orang.

Gelap sekali. Ketika motor lewat, semakin jelas bahwa jalanan ini benar gelap. Hanya bercahaya bulan dan bintang, serta lampu rumah yang begitu jauh. Di sini, aku takmau terdepan. Aku asing dengan tempat ini. Mungkin kalau ada cahaya matahari, aku akan lebih menikmati suasana ini.

Kau bisa mendengar suara pohon bambu ditiup angin. Matamu akan lebih sehat. Karena sebelah kanan, langit lapang. Hanya rumah-rumah yang berada di bawah. Bukan tembok-tembok megah menjulang. Menyilaukan. Merusak mata dan bisa jadi merusak hati.

Apalagi saat kau sampai di jembatan. Kau bisa mendengar suara gemericik mata air. Dan suara air mengalir. Sayangnya, dalam gelap mataku takbegitu jelas menyaksikan mata air menyembul.

Bagian tubuhmu yang lain, paru-paru, pun akan jauh lebih sehat. Kau akan bisa merasakan udara dingin takberbau debu. Melewati hidung. Mampir ke paru-paru. Mengembangkan dadamu. Lalu, dengan puas kau hembuskan keluar. Aku menikmati sekali suasana desa ini. Momen yang jarang kutemui.

Daun-daun yang gugenggam pun aku rasa merasakan hal yang sama. Ia berbahagia taklagi di Unpad. Di sini jarang kendaraan lewat yang bisa saja meremukkan badannya.

Perjalanan ini mencapai puncak bukan di Kiara Payung. Kami memutuskan beristirahat di sebuah pendopo. Aku meletakkan dua daun di atas tembok pendopo. Sejenak harus kulepaskan daun itu.

Di sana, takhanya beristirahat, kami pun beryoga. Sembari menunggu pesanan mi rebus datang. Badan terasa hangat oleh olah pernapasan. Aku ingin memberimu satu rahasia. Ingat ya, rahasia.

Teh Mona menjadi instruktur olah pernapasan saat itu. Ia meminta kami menarik napas lima hitungan, begitu pun menghembuskannya. Dalam sepuluh kali.

Tapi, baru lima kali. Ia meminta hal yang sama. Namun, bukan lima, melainkan 10 hitungan. Tetap, 10 kali. Sssttt. Aku hanya melakukannya tiga kali. Dan itu pun tidak 10 hitungan. Sungguh takkuat. Melelahkan. Entah dengan teman-teman yang lain.

Pesanan datang, kami makan. Udara di sini begitu dingin. Kopi panas saja tidak bertahan lama suhunya. Selesai makan, kami membaca puisi bergantian. Lagi-lagi, Jeni dong yang menjadi bahan cengan,  bersama dua orang berinisial I-M.

Takterasa, sudah pukul 11 malam. Kami harus pulang. Tentunya setelah membayar dan berpamitan dengan penjaga pendopo.

Kami berjalan, turun. Kali ini dengan berkata-kata, bersenda-gurau. Beberapa saat aku terdiam. Ada bau yang aku tidak mampu menjelaskannya. Bukan bau embun yang biasa kuhirup di taman-taman di tengah kota. Sungguh, harum khas desa.

Di tengah kenyamanan ini, kebimbanganku kembali menyeruak. Aku takmau membawa pulang dua daun ini. Maka, kuputuskan, kupilih salah satunya dalam gelap. Ini memang kesalahanku, tidak hati-hati. Karenanya, aku harus meninggalkan satu daun di semak-semak. Berharap ia tidak kesepian. Bersama rumput, jangkrik, kodok, dan berbagai suara binatang lainnya yang sampai aku tidak tahu binatang apa.

Ketika sampai di Unpad, terang lampu jalan, aku lihat daun itu, daun hijau berlubang. Daun pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s