Di Toko Bunga, Bermula

black-rose

Menyesallah Anda bila taksempat membaca cerpen Kompas Minggu, 17 Juni 2011. Saya berani mengatakan ini karena cerpen ini memang layak untuk dinikmati. Dari cerpen ini Anda bisa belajar untuk sedikit lebih peka, terutama pada orang yang Anda sayangi.

Ketika cerpen ini ada di hadapan, saya langsung terfokus pada judul, “Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata-kata”. Judul yang tercetak dengan ukuran huruf kurang lebih 72 ini telah membetot mata saya.

Jika hanya membaca judul tanpa membaca isinya, saya akan beranggapan bahwa cerpen ini mengisahkan dan berakhir dengan kesedihan. Namun, ternyata tidak seperti dugaan saya sebelumnya. Cerpen ini justru ditutup dengan kebahagiaan. Aku terkejut. Sejak itulah hidupku berubah.

Cerpen karya Putu Wijaya ini berkisah tentang seorang Bapak yang kebingungan mencari bunga untuk hadiah ulang tahun. Ia bahkan telah siap memilih bunga setengah jam sebelum toko dibuka. Tapi setelah satu jam memilih, takada satupun bunga yang berhasil menarik hatinya.

Kemudian, datang seorang gadis menawarkan rangkaian bunga. Tetap saja Bapak itu tidak tertarik. Akan tetapi, ketika gadis itu mengatakan “Itu saya sendiri yang merangkainya”, si Bapak merasa tolol kalau tidak menyambarnya.

Begitulah awal perjumpaan Bapak dengan penjual bunga. Ketegangan dimulai ketika ternyata bunga yang telah mantap Bapak itu pilih, ternyata tidak dijual. “Karena dibuat bukan untuk dijual.”. Tawar menawarpun dimulai.

Si gadis tergugah saat si Bapak mengeluarkan semua uang di dompetnya. Uang 900ribu beserta receh logam telah diletakkan di atas meja. Si gadispun akhirnya menyerah.

Percakapan berlanjut soal cara si Bapak pulang ke rumah. Saya tertarik ketika si Bapak berkata “Apa salahnya. Bunga yang sebagus itu tidak akan berubah meskipun naik gerobak.”

Lalu, dilanjutkan dengan penentuan ucapan selamat. Di sini, saya heran, ketika si gadis memilih sajak Di Beranda Itu Angin Takberembus Lagi karya Goenawan Mohamad. Entah si gadis memahami persoalan si Bapak atau ia tidak mengerti soal puisi dan asal memilih saja.

Saya rasa untuk pilihan yang kedua tidak mungkin. Karena ia hafal betul menuliskannya, tanpa melihat buku. Sebagai penjual bunga, saya rasa ia akrab dengan puisi. Misalnya kasus si Bapak ini, ia langsung menawarkan kartu ucapan berisi puisi. Yang berarti ini pun sudah menjadi kebiasaannya, menawarkan ucapan pada orang yang membeli bunganya.

Saya seperti pembeli bunga lain yang berada di toko itu. Menyaksikan percakapan demi percakapan. Mendengar pula ketika si Bapak berkata, “Kamu tak mau mengucapkan selamat ulang tahun buat aku?”. Di sini, saya dan si gadis baru mengetahui bunga ini akan ditujukan untuk siapa.

Si gadis penjual bunga saja heran, kok bisa si Bapak membeli hadiah untuk dirinya sendiri. Ia pun berani menyatakan “Ya, keluarga Bapak. Teman-teman Bapak. Anak Bapak, istri Bapak, atau pacar Bapak….” Singkat, padat, dan jelas. Bapak itu menanggapi. “Mereka terlalu sibuk”

Bapak yang diceritakan di atas, bisa sebagai gambaran dari kehidupan masyarakat. Bukan karena tidak memiliki keluarga atau orang terdekat, tapi justru karena mengenal banyak orang yang malah tidak peduli dengan dirinya. Keadaan seperti ini membuat orang semakin kesepian. Seperti hampa seorang diri di tengah keramaian.

Setelah percakapan demi percakapan berlangsung, Bapak itupun berniat pergi. Ia telah mendapatkan hadiah ulang tahun yang diharapkannya. Percakapan kami tadi terlalu indah. Bunga itu hanya bonusnya. Jadi, yang Bapak itu butuhkan sebenarnya, bukan bunga yang hanya sebagai simbol. Tapi obrolan yang bisa menemani kesendiriannya.

Cerita si gadis dan Bapak itu diakhiri dengan dikembalikannya uang oleh si gadis yang ternyata pemilik toko, “Aku pemilik toko ini”. Ia pun mengambil bunga dari tangan Bapak itu. “Tidak perlu dibeli. Ini hadiah dariku untuk Bapak. Dan aku mau mengantar bapak pulang…”

Begitulah akhir cerita cerpen ini. Putu Wijaya cerdik menutup cerita. Aku terkejut. Sejak itulah hidupku berubah. Membuat pembaca menerka-nerka kelanjutan hubungan dan jenis relasi mereka. Entah gadis itu menjadi anak, teman, atau malah pacar.

Nah, beginilah potret gejala masyarakat. Bukan tidak mungkin peristiwa ini hanya fiksi semata. Setelah Anda membaca tulisan ini, termasuk orang yang manakah Anda? Merasa kesepian atau malah tidak peka. Syukur-syukur bila tidak keduanya.

Apakah Anda ingat atau bahkan sempat mengucapkan hari ulang tahun orang terdekat Anda?

Jatinangor, 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s