Pendidikan di Jatinangor

jatinangor1.JPG

Langit biru membentang. Antena-antena menjulang.  Terlihat puncak pegunungan. Berdiri berbagai tempat kegiatan. Kini, masih terus berlangsung, masa pembangunan. Begitulah Jatinangor oleh kasatmata.

Sebuah daerah yang terletak antara Bandung-Sumedang. Jatinangor pun sebelum namanya dikenal, telah menjadi penghubung jalan ke berbagai daerah. Misalnya saja Cirebon. Jadi di jalan raya yang melintang, kita akan dengan mudah melihat berbagai kendaraan yang lewat.

Selain karna itu, akan semakin banyak orang yang mengenal Jatinangor. Berkat banyaknya lembaga pendidikan berdiri di sini. IPDN, Unpad, Ikopin, dan ITB yang sedang dalam masa pembangunan.

Saya sebagai salah satu mahasiswa di salah satu lembaga di atas. Semula, tidak mengenal Jatinangor. Satu peristiwa, tetangga saya melanjutkan pendidikannya di sini. Tiap kali berbicara tentang Jatinangor. Saya akan menyebutnya Bandung.

Ternyata setelah saya masuk di perguruan tinggi yang sama dengannya, mata saya mulai terbuka. Selama hidup saya, sebelum berada di Jatinangor, saya sama sekali tidak mengetahui bahwa ada daerah bernama Jatinangor. Padahal kalau dilihat sejak saya menginjakkan kaki di sini hingga sekarang, Jatinangor tidak terlihat seperti sebuah desa.

Hingga saat ini pun, jika teman-teman saya menanyakan kabar kepulangan, mereka akan mengatakan, “Kapan pulang dari Bandung?”. Jadi, apa yang membuat Jatinangor namanya tidak menggelegar? Satu jawaban, sosialisasi.

Pertanyaan selanjutnya, siapa yang mampu menyolialisasikannya? Saya kira para penyelenggara pendidikan di atas dan yang terkait di dalamnya, misalnya mahasiswa. Akan tetapi, yang perlu kita yakini, layakkah Jatinangor disosialisasikan?

Sebelum menggembar-gemborkan Jatinangor, akan jauh lebih baik membenahinya terlebih dahulu. Banyaknya lembaga pendidikan di sini, malu rasanya kalau banyak orang mengenal Jatinangor karena pendidikannya. Sementara masyarakat yang tinggal di sini, bahkan sebelum gedung-gedung pendidikan berdiri, semakin tersingkir.

Kontras sekali. Orang-orang dari luar daerah berbondong-bondong untuk meneruskan sekolahnya di sini. Sementara masyarakat yang memang asli Jatinangor tidak dapat merasakan bangku kuliah. Bahkan sampai ke jenjang setara dengan SMA pun tidak sedikit yang bisa menikmatinya.

Apa ini salah satu bukti bahwa sifat individualis pun telah merambah di “kota” ini?

Tentu akan prihatin bila kalimat mengorbankan yang lama untuk sesuatu yang baru terlontar dari masyarakat Jatinangor. Senang rasanya bila semua yang berada di Jatinangor bisa berdampingan dan salingmendukung. ***

Jatinangor, 16 Juli 2011

14.10 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s