Bahasa Kalbu

Kembali, seperti hari-hari sebelumnya, aku pulang larut malam. Kutatap jam berdiri di meja, jarum mengarah ke angka 12.

Sangat lelah hari ini. Mataku taksanggup lagi terjaga. Selain karena aktivitas, kelelahanku saat ini efek dari kurang tidur. Hari sebelumnya aku baru terlelap pukul lima pagi. Dan harus bangun seperti biasanya, pukul delapan. Maka, langsung saja berganti pakaian, dan menuju kamar mandi. Setelah itu aku hendak langsung pergi tidur. Untuk keberangkatanku menuju mimpi kali ini, aku memasang satu lagu dari handphone. Bahasa Kalbu – Titi Dj, ku pilih.

Pagi tiba. Langsung ku raih handuk. Mandi.

Selesai merapikan kamar dan menyiapkan tas berserta isinya, akupun siap menjalani rutinitas di luar.

Taklupa mematikan lampu dan mengunci kamar, kini aku sudah menuju ke pagar kosan. Menuruni undakan-undakan tangga. Sampailah aku di gerbang. Kugenggam gembok berkode yang melilit pagar putih dua kali tinggi tubuhku. Lima angka kutekan dan terbukalah pintu.

Kukembalikan letak gembok. Akupun mulai melangkah.

Tibalah aku di gang amat sempit. Untungnya sampai akhir gang, hanya aku seorang. Bila di tengah gang perpapasan dengan orang lain. Kami harus memiringkan badan.

Akhir gang, kuturuni tangga yang sudah takrapi lagi. Tangga dari semen ini sudah bompel-bompel. Kehati-hatian pun harus ditambah. Di bawah tangga ini solokan yang lebarnya dua kali pundakku mengalir air keruh yang cukup deras.

Setelah melewati tangga itu. Perjalananku terasa lebih mudah. Jalan datar berlapis semen. Aku taksir, lebar jalan ini selebar rentangan tanganku. Jalan yang cukup lumayan di tengah kos-kosan yang memenuhi bahu kiri-kanan jalan.

Sering aku berpikir. Apakah Jatinangor akan kembali seperti sediakala, bila semua lembaga pendidikan taklagi ada di sini? Menyenangkan sekali rasanya. Sawah menghampar. Udara segar.

Namun, kukira takmungkin. Aku perhatikan, justru pembangunan di Jatinangor semakin marak. Salah satunya apartemen di belakang Mall Jatos (Jatinangor Town Square) sedang dalam masa pembangunan.

Sebetulnya, takada salahnya dengan pembangunan ini. Aku kira, dengan ini dapat pula menaikkan perekonomian masyarakat, contohnya dengan berdagang.

Akan tetapi, yang aku sayangkan. Sepertinya pembangunan kurang memerhatikan ekosistem. Jarang sekali aku melihat pohon. Padahal fungsi pohon di sini begitu vital. Apalagi Jatinangor sebagai jalur menuju berbagai daerah, misalnya Sumedang dan Cirebon. Banyaknya kendaraan berbanding lurus dengan polusi.

Ingin sekali aku meneruskan unek-unek ini. Namun, aku harus cepat menuju Nalar. Seseorang menungguku.

Kini, langkahku melambat. Jalan menanjak menguras lebih tenaga tubuhku. Sambil terus berjalan, aku pun harus pula mengatur napas.

Di jalan yang menanjak ini, duduk seorang nenek. Mungkin Ia seorang peminta-minta. Namun, bisa pula dikatakan bukan. Sudah hampir satu tahun aku melewati jalan ini. Di pagi hari, selain hari Minggu, nenek ini selalu hadir.

Sesekali aku memberinya uang. Akan tetapi karena kondisi keuanganku kali ini cukup buruk, maka aku hanya berjabat tangan dengannya.

Akupun meneruskan perjalanan, sembari mengingat sang nenek. Ketika kutengok ke belakang. Aku melihat seseorang perempuan membuka dompetnya di hadapan nenek.

Aku menyukai nenek itu. Takdiberi uang, takberjabat-tanganpun ia pasti mendoakan orang yang lewat melintasinya.

Nenek itu selalu tahu. Ketika sedang musim ujian, Ia mendoakan untuk keberhasilan ujian. Ketika musim liburan, Ia mendoakan untuk keselamatan. Biasanya di akhir pekan dan kalau orang yang lewat membawa tas yang cukup besar.

Sebagai warga Jatinangor Ia sangat perhatian kepada kami, para mahasiswa. Namun, apakah banyak mahasiswa yang peduli dengan keberadaan masyarakat Jatinangor?

Banyak pula yang ingin kuungkapkan tentang si nenek. Tapi, lagi-lagi aku diburu waktu.

Kulanjutkan perjalanan. Masih di gang Ciseke. Kini aku berjalan lurus. Di kiri jalanku, selokan yang jauh lebih curam menyapa. Tidak seperti selokan sebelumnya yang mengalir air dengan deras, selokan ini hanya diisi oleh becek-becek air.

Miris, selokan ini takberfungsi sesuai fungsi utamanya. Di dalam selokan ini justru berdiam sampah-sampah bekas minuman, puntung rokok, dsb.. Entah takada yang memedulikannya atau malah sengaja dibiarkan saja. Aku bayangkan, saat hujan deras, dan selokan ini berfungsi, sampah-sampah itu akan ikut mengalir bersama air. Kemudian menimbulkan masalah di tempat lain.

Dinding yang menjulang di sisi selokan ini adalah kos-kosan yang harga sewanya cukup menguras. Bayangkan saja. Dua tahun lalu ketika pertama kali aku mengenal Jatinangor, kosan ini menawarkan harga 15 juta perkamar-pertahun. Aku hanya tertawa saja. Uang sebanyak itu setara dengan enam tahun uang sewa di kosanku sebelumnya.

Sepertinya citra mahasiswa yang sejak kecil kubayangkan, hanya untuk segelintir orang di sini. Kalau melihat banyaknya kos-kosan yang menarik harga cukup tinggi, kelihatannya mayoritas mahasiswa adalah orang yang sejahtera.

Aku jadi teringat dengan teman-teman yang mendapatkan beasiswa dari kampus. Lucu sekali membayangkannya. Sebagian teman-temanku yang mendapatkan beasiswa, memanfaatkan uang itu untuk membeli ponsel blackberry.

Kembali ke dinding kosan ini. Kertas-kertas menempel. Kertas yang sudah tidak karuan bentuknya membuat dinding ini menjadi kumuh. Menggelikan, takdisangka, indekos borju dibatasi oleh dinding seperti ini.

Pemandangan itu segera berakhir. Kini keberadaanku mengakhiri gang Ciseke. Di sini, langit biru membentang. Sayang, bau debu dimulai. Penglihatanku dikuasai oleh kepadatan jalan raya. Kutelusuri bahu jalan. Sampailah aku di tempat tujuan.

Seketika aku berpindah alam. Mataku menatap gorden yang menyala. Cahaya telah menyorotnya dari luar. Saat aku meraih handphone. Terbaca, “Bahasa Kalbu”.

Jatinangor, 14 Juli 2011

13.19 pm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s