Penghuni Setia

Sudah menjadi rutinitasku, pulang ke kosan larut malam. Kali ini pukul satu. Seperti biasanya, ketika sampai di depan kamar, aku sibuk mencari kunci berwarna perak yang tenggelam di dalam tas. Pencarianku tidak sia-sia, tidak seperti hari kemarin, kali ini kunci kutemukan.

Tanpa menunda-nunda. Ceklek… pintu kubuka. Gelap pun menguasai ruangku.

Sebagai orang yang takut gelap, cepat saja kuraih saklar yang ada dibalik pintu. Klik.

“Hore terang.” Sorak seluruh penghuni kamar, tak terkecuali diriku.

Kebiasaanku pula ketika tiba di kamar, aku langsung berganti pakaian untuk tidur, tentunya setelah menutup pintu.

Kostum tidur ini sudah kukenakan kurang lebih tiga kali. Selama tidak kukenakan, pakaian ini kugantung di balik pintu dengan ditemani celana dan jaket, yang tentunya bernasib sama. Menanti untuk dicuci.

Di sebelah mereka, tumpukan tas menggantung. Dengan gantungan baju berwarna biru tua, tas-tasku bertumpu. Malangnya tembok berwarna hijau toska ini. Ia telah terluka oleh paku. Demi untuk menyangga gantungan tas-tasku.

“Hai, tas! Kalian harus berterima kasih padanya.”

Kembali ke aktivitas, setelah berganti pakaian, aku selalu pergi ke kamar mandi. Karena letak kamar mandi berada di luar kamar. Para penghuni harus rela kutinggalkan untuk kepentinganku ini.

Di kamar mandi, kali ini waktu kuhabiskan lebih lama dari biasanya. Sebab, tamu yang selalu datang tiap bulan, mau takmau harus kubersihkan. Seiring dengan guyuran air di “roti jepang”, bau amis menyalak. Lalu, cairan merah mulai mengalir darinya. Sebagai perempuan berusia 20 tahun, aku sudah puluhan kali menghadapi ini.

Untuk mengurus salah satu aktivitas perempuan ini, rasanya terlalu panjang untuk diceritakan. Skip saja ya.

Kasihan para penghuni yang kutinggalkan. Maka, setelah menyikat gigi dan mencuci wajah, aku kembali ke istana mungilku.

Kali ini, seperti biasanya pula. Selesai dari kamar mandi, aku langsung mengambil sisir dan menggunakannya sambil becermin. Cermin menggantung ini sudah bertahun-tahun kumiliki. Sebelum menjadi milikku seorang, cermin warna coklat berukir ini telah menemani seluruh keluargaku.

Di istanaku ini, fungsinya takhanya untuk bersolek, tapi kugunakan juga untuk menggantung kalung-kalung dan kuberi sedikit hiasan rangkaian bintang-bintang hijau. Sehingga cermin yang sudah ratusan, bahkan ribuan kali menatap wajahku ini, tidak kesepian.

Di malam hari, cermin selalu melihat rupaku yang lelah. Ia pasti mengizinkan aku untuk mengunjungi si kasur. Gubrak. Kujatuhkan diri di si alas mimpi. Takberapa lama, badan kuminta duduk, untuk membuka lipatan bedcover.

Di hadapanku saat ini, dua rak menatapku lesu. Rak kayu bertingkat empat yang kubeli dari sisihan uang jajan, kupilih salah satu bukunya. Dongeng-dongeng Grim Bersaudara akan menemani keberangkatan mimpiku kali ini.

Sayang sekali, buku di rak sebelahnya, yaitu rak biru tingkat dua, tidak kukunjungi hari ini. Sebagai rak yang senasib dengan cermin, kasur dan bedcover, ia pasti cemburu.

“Maaf ya, rak. Walaupun kau kubawa jauh dari Bekasi. Buku-bukumu kali ini belum menarik perhatianku.”

Beres memilih buku. Kugelar bedcover di atas tubuh. Setelah mendapatkan posisi nyaman untuk membaca, mulailah kubuka sang buku.

Dua cerita kali ini menghantarkan menuju mimpi. Takkuat lagi mata terjaga. Maka kupejamkan, dan akupun dengan mudahnya masuk ke alam yang lain.

Pagi hari, badan segar, siap kembali berkegiatan. Biasanya aku taksegera bangun. Aku masih akan menikmati kenyamanan di atas kasur busa dan bedcover hijau kesayanganku. Kasur dan bedcover ini sangat halus. Seperti kau mengelus ribuan putik bunga yang menghampar.

Sambil menemani momen ini, aku menatap para penghuni, perlahan.

Aku suka sekali memandang foto Genuine -enam orang bersahabat yang gak mau dibilang genk-. Dengan pigura putih bercorak jejak tangan dan kaki mungil merah jambu, potret kami abadi di sana. Sebelahnya pigura hijau berisi tiga fotoku.

Nah, sebelah foto-fotoku itu, aku meletakkan toples dengan ukuran yang lumayan tidak normal untuk wadah kue. Toples ini setengahnya dipenuhi 1027 bintang kertas mini. Di atasnya, tinggallah dua burung plastik mika yang kubuat ketika melakoni teater “Yang Tak Sampai”. Dua benda ini saksi dari bagian sejarah hidupku. Lebayatun, hihihi.

Biasanya, aku baru beranjak dari tempat tidur pukul delapan. Kalau bangunku terlalu cepat, aku akan menyambung mimpi. Tentunya di hari libur kuliah. Kebiasaan buruk, tak usah ditiru ya.

Kalau waktu yang sudah kutentukan tiba, aku harus rela meninggalkan singgasana ini dan bergegas mandi. Kuraihlah handuk yang menggantung di besi penampung gorden. Lagi-lagi para penghuni tampak lesu. Mereka menyadari, kalau aku mandi, tandanya aku akan segera pergi.

Tuntas mandi. Aku pun akan langsung membuka lemari. Ia tampak gembira. Aku mengambil baju yang klik untuk hari ini. Selesai, kukunci kembali lemari coklat yang tingginya hanya sepundakku.

Di gagang lemari ini, aku menggantungkan tiga foto keluargaku. Paling atas foto formal yang diambil di studio foto ketika teh Ros, kakakku, di wisuda. Bapak dan adikku memakai jas, sedangkan aku, teteh, dan mama menyeimbangi para lelaki dengan berkebaya hijau. Lucunya, kebaya ini seragam perempuan keluarga Aman. Kami tampak kompak dengan kebaya dari Tanah Abang.

Dua foto lainnya, ketika kami di kawah putih dan lagi-lagi di studio foto. Namun, bukan foto wisuda, melainkan foto ketika kami kompak berfoto untuk keperluan KTP.

Lemari pun tampak lebih indah dengan kehadiran gambar kami ber-15. Karna jumlah foto ada tiga dan keluargaku berjumlah lima, maka total wajah di depan lemari ada 15 wajah. Keluargaku memang “gila” foto.

Takkalah dengan lemari, di sebelahnya meja belajar lesehan ajek. Fungsi meja ini lebih dari sekedar untuk belajar. Tapi pun untuk menaruh barang-barang berharga lainnya. Lagi-lagi ada pigura. Fotoku berseragam putih abu-abu dengan memegang sepasang sepatu. Foto itu diambil ketika sekolahku kebanjiran. Momen yang musti diabadikan. Dan terbukti, berkesan.

Takhanya foto. Aku pun rajin menabung. Di belakang pigura kusembunyikan celengan bergambar Spiderman. Celengan kaleng ini kubeli bersama “dia”. Sssttt, kami berkomitmen. Celengan ini akan dibuka bersama ketika kami sudah lulus kuliah. Kini usia celengan ini sudah dua tahun. Sama dengan kehadiran kami di Jatinangor.

Bagaimana pun hubungan kami. Komitmen harus tetap dijalani.

“Sedikit curhat saja. Biar ga garing. Hahaha.”

Selain celengan. Di sana ada wadah berbentuk kotak, rumah untuk binatang ciptaanku. Kini, aku sedang menyicil membuat burung-burung kertas super mini. Niatnya sih mau aku kasih ke orang yang tepat nanti. Suatu saat. Suatu hari nanti.

“Tuh kan, lagi-lagi curcong. Hahaha.”

Aku harus segera pergi. Menjalani kembali rutinitas. Para penghuni kamarku yang setia taktampak murung. Mereka yakin, aku pun setia, dan akan kembali. Klik. Takbegitu gelap, karna cahaya matahari selalu mampu menembus jendela kamar.

Ya. Beginilah kamarku, kawan. Ruangan berwarna hijau-jingga yang sengaja kupilih. Jejak-jejak tanganku kuulas menghiasi kepolosan dinding. Ditambah pula dengan daun buatan yang melintang di salah satu dinding. Sungguh istanaku yang mewah.

Jatinangor, 13 Juli 2011

04.58 am

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s